Ekonomi Bisnis

Rabu, 2 Maret 2022 - 00:06 WIB

5 tahun yang lalu

logo

Surabaya | klikku.net – Kelangkaan minyak goreng di Indonesia masih terus terjadi. Pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD menyebutkan, bahwa peristiwa ini tidak terlepas dari mekanisme penawaran dan permintaan atau supply and demand.

“Minyak goreng merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia.  Berdasarkan IHK (Indeks Harga Konsumen) Indonesia, minyak goreng memiliki kontribusi  besar.  Karena merupakan salah satu barang yang dikonsumsi masyarakat setiap harinya. Hingga bobot terhadap inflasinya juga cukup tinggi,” ujarnya, Selasa (1/3/2022).

Ia menyebut, kelangkaan minyak goreng disebabkan ada kenaikan dari sisi permintaan  (demand)  dan  penurunan dari sisi penawaran (supply). Salah satu faktor penyebab penurunan supply, utamanya karena produsen mengalami penurunan dalam memasarkan minyak goreng di dalam negeri.

“CPO(Crude Palm Oil) merupakan salah satu jenis minyak nabati paling banyak diminati oleh masyarakat dunia. Saat ini harga CPO di pasar dunia sedang mengalami kenaikan dari 1100 dolar AS menjadi 1340 dollar,” ujarnya.

“Akibat kenaikan harga CPO, produsen minyak goreng  lebih  memilih menjual minyak goreng ke luar negeri. Karena keuntungan  yang lebih besar,” tambahnya.

Faktor lain adalah kewajiban pemerintah terkait dengan program B30. Yang mewajibkan pencampuran 30 persen CPO dengan 70 persen bahan bakar minyak jenis solar, menjadi biodiesel.

Ia melanjutkan, konsumsi yang seharusnya digunakan untuk minyak goreng beralih untuk produksi biodiesel. Hal itu karena ada kewajiban  untuk pengusaha CPO,  agar  memenuhi market produksi biodiesel sebesar 30 persen.

“Faktor ketiga adalah kondisi pandemi Covid-19 yang belum selesai. Ada beberapa negara di belahan dunia lain yang sedang mengalami gelombang ketiga Covid-19.  Konsumen luar negeri yang selama ini  menggunakan minyak nabati, mulai beralih ke CPO. Hingga ada kenaikan permintaan di luar negeri terkait ekspor CPO,” terangnya.

Selain itu, posisi produsen minyak goreng hanya ada di beberapa daerah saja. Sedangkan proses distribusi harus dilakukan ke berbagai daerah di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan kenaikan harga distribusi.

Berkaitan dengan logistik, harga kontainer saat ini lebih mahal dari sebelumnya. Shipping atau perkapalan juga mengalami kenaikan harga. Faktor ini,  mendorong harga kebutuhan minyak goreng mengalami kenaikan.

Rossanto mengungkapkan, naiknya harga minyak goreng akan mendorong inflasi secara umum. Dampak yang ditimbulkan dapat memengaruhi sektor industri makanan, rumah tangga, dan semua produksi yang menggunakan bahan baku minyak goreng.

“Oleh karena itu dampaknya juga akan lebih terasa terhadap inflasi terutama dari segi IHK,” pungkasnya. Soen/Roji


Editor: Joe Mesti

252

Baca Lainnya