Gresik | klikku.net – Pembunuh mayat misterius yang menggegerkan warga Desa Gluran Ploso, Kecamatan Benjeng, ternyata adalah suami siri korban.
Hal ini diungkap Kapolres Gresik AKBP Mochamad Nur Aziz, saat rilis ungkap kasus, Senin (12/9).
“Tersangka pelaku pembunuhan, sekaligus pembuang mayat wanita di Gluran Ploso adalah Hendro Setiawan alias HS (43), yang tak lain adalah suami siri orban EPN (42),” ujarnya.
Dugaan ini berdasarkan penyelidikan dan penyidikan dari hasil otopsi. Serta didapati bukti, bahwa korban terakhir kali bersama pelaku pembunuhan.
“HS telah kami amankan, dan sudah mengakui perbuatannya. Untuk motif pembunuhan, masih kami dalami,” ungkapnya.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Gresik Iptu Wahyu Rizki Saputro menyampaikan, mulanya pihaknya kesulitan mengurai kasus tersebut.
“Karena saat kami tanyakan pada suami sah korban yang berada di Lumajang. Yang bersangkutan mengaku sudah bertahun-tahun tidak mendapat kabar keberadaan korban. Begitu pula dengan keluarga dan famili lainnya, juga menyampaikan hal yang sama,” ujarnya.
“Jadi korban EPN ini, dulu pamit cari kerja ke Surabaya. Tetapi hilang kontak hingga di temukan menjadi mayat,” tambahnya.
Setelah menelusuri media sosial dan data lain milik korban. Akhirnya ditemukan orang terdekat korban, yakni HS. Dan mereka ini tinggal di Desa Beton, Kecamatan Menganti. Tinggal di rumah sendiri, tapi di tengah sawah, jauh dari permukiman,” ungkap Wahyu.
HS belum mengaku sebagai pembunuh korban. Tetapo dia mengakui yang membuang mayat korban di Gluran Ploso.
“Ini sedang kita dalami, karena petunjuk mengarah pelakunya adalah HS. Salah satunya, karena dia berusaha menghilangkan bercak darah di rumah yang ditempati,” beber Wahyu.
Korban meninggal akibat pendarahan di kepala bagian belakang, karena benturan benda tumpul.
“Selain itu terdapat sayatan benda tajam di kaki korban. Kami proses menguatkan bukti untuk mematahkan alibi tersangka,” pungkasnya.
Dari ungkap kasus tersebut, polisi menyita motor tersangka HS yang digunakan membuang mayat korban. Serta beberapa helai kain dengan bercak darah korban sebagai bukti. Pungkasnya. Wandi
