Surabaya | klikku.net – Ratusan warga Tionghoa, sejak pukul 07.30 WIB antre di halaman TITD Hong San Ko Tee, untuk mengikuti Ci Swak atau ruwatan, yang merupakan ritual tolak balak, Minggu (5/2).
Menurut Suhu Gunawan, pembina TITD Hong San Ko Te yang memimpin proses Ci Swak, kegiatan ini bertujuan membersihkan hawa negatif dalam tubuh. Sehingga bisa menghindarkan diri dari balak atau musibah.
“Kegiatan ini digelar setiap tahun setelah Imlek. Tujuannya untuk menghindarkan diri dari musibah. Sebab menurut kepercayaan dalam agama Budha. Sesuai aliran alam, dalam setiap tahunnya ada shio yang berbenturan. Hingga harus dibersihkan, agar terhindar dari kecelakaan dan perselisihan dengan orang lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, di Tahun Kelinci Air ini, shio yang mengalami benturan atau Jiong, diantaranya shio Kelinci, Ayam, Tikus dan Kuda.
“Ke empat shio ini, harus banyak berdoa atau sembahyang pada para dewa dan Tuhan YME. Serta harus bisa mengontrol diri,” ungkapnya.
Ia menambahkan, bahwa proses ritual Ci Swak ini menggabungkan 3 kepercayaan. “Untuk proses siraman, merupakan cara Hindu Bali, yang biasa disebut Melukat. Air bunganya merupakan kepercayaan Jawa atau Kejawen. Sementara waktu atau harinya, sesuai dengan penanggalan imlek. Jadi proses ruwatan ini tidak terhubung dengan aliran agama tertentu. Penganut agama apapun, bisa ikut prosesi ini,” pungkasnya.
Kegiatan yang diikuti 998 orang tersebut, berlangsung dari pagi hingga sore hari. Dan pada pukul 18.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan sembahyang Cap Go Meh bersama-sama. Sebagai penutup, semua rangkaian kegiatan Imlek 2023 ini.

Menurut Erdina Tedjasaputra, salah satu pengurus TITD Hong San Ko Tee, dalam sembahyang Cap Go Meh, pihaknya meminta agar diberi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan, serta terhindar dari berbagai macam musibah atau bencana.
“Setelah sembahyang bersama, kami bagikan makanan lontong Cap Go Meh, pada seluruh umat yang hadir. Ini adalah tradisional turun temurun, sebagai bentuk berbagi dari umat untuk umat,” pungkasnya. @Nto tze
