Jakarta | klikku.id – Kabar besar datang dari Den Haag. Pemerintah Belanda resmi memutuskan akan memulangkan 28 ribu keping fosil manusia purba koleksi ilmuwan Eugene Dubois ke Indonesia.
Fosil bersejarah yang kini tersimpan di Pusat Keanekaragaman Hayati Naturalis, Leiden, itu rencananya segera direpatriasi setelah mendapat lampu hijau dari Komite Koleksi Kolonial Belanda.
Keputusan tersebut diumumkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Gouke Moes, Jumat (26/9).
“Nasihat komite diambil berdasarkan penelitian menyeluruh. Kami akan bekerja sama dengan Naturalis dan mitra Indonesia untuk memastikan proses repatriasi berjalan lancar,” kata Moes, seperti dilaporkan Antara.
Ia menegaskan, surat resmi terkait rencana pemulangan fosil sudah diserahkan kepada Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Moes menilai, koleksi Dubois memiliki nilai ilmiah yang tak ternilai, terutama dalam memahami sejarah evolusi manusia.
“Indonesia dan Belanda sama-sama percaya, koleksi ini tetap penting sebagai sumber penelitian ilmiah,” imbuhnya.
Fosil-fosil itu diekskavasi Dubois di Indonesia pada akhir abad ke-19. Isinya antara lain fragmen tempurung kepala, gigi geraham, hingga tulang paha Homo erectus, spesies hominin yang dianggap jembatan antara kera dan manusia modern.
Namun, Komite Koleksi Kolonial Belanda menyimpulkan, ada indikasi fosil diperoleh tanpa persetujuan masyarakat setempat.
Karena itu, badan independen tersebut menegaskan Belanda tidak memiliki hak kepemilikan, dan merekomendasikan koleksi Dubois dikembalikan tanpa syarat.
Marcel Beukeboom, Direktur Jenderal Naturalis, menambahkan, kerja sama penelitian dengan Indonesia tidak akan berhenti.
“Kami percaya kolaborasi dengan para peneliti Indonesia akan tetap berjalan dengan antusiasme tinggi setelah fosil dipulangkan,” ujarnya.
Selama ini, Naturalis dan akademisi Indonesia memang sudah lama bahu-membahu meneliti koleksi Dubois.
Repatriasi ini menjadi babak baru, tidak hanya soal pengembalian artefak bersejarah, tetapi juga pengakuan atas hak Indonesia dalam menjaga warisan ilmu pengetahuan dunia. R3D
