Ekonomi Bisnis

Selasa, 30 September 2025 - 18:29 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Asisten Direktur Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Jatim, Indrawan Nugroho (kiri) bersama Analis OJK Jatim, Anugerah Rakhman, saat tampil di Podcast Cangkru’an OJK Jatim yang digelar via IG Live, Selasa (30/9)

Asisten Direktur Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Jatim, Indrawan Nugroho (kiri) bersama Analis OJK Jatim, Anugerah Rakhman, saat tampil di Podcast Cangkru’an OJK Jatim yang digelar via IG Live, Selasa (30/9)

Jangan Salah Kelola Gaji, Begini Rumus Menabung dan Investasi ala OJK Jatim

Surabaya | klikku.id – Gaji habis sebelum akhir bulan? Atau selalu merasa sulit menabung karena penghasilan pas-pasan? Ini tandanya ada yang keliru dalam mengatur keuangan.

Solusinya, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur, adalah disiplin menabung sejak awal menerima gaji dan bijak dalam berinvestasi.

Pesan itu disampaikan Asisten Direktur Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Jatim, Indrawan Nugroho, saat tampil di Podcast Cangkru’an OJK Jatim yang digelar via IG Live, Selasa (30/9).

Acara tersebut dipandu Analis OJK Jatim, Anugerah Rakhman, dengan gaya santai khas Gen Z.

“Menabung jangan menunggu sisa gaji, tapi harus disisihkan di awal. Minimal 10–20 persen langsung dialokasikan untuk tabungan atau investasi. Sisanya, 30 persen untuk cicilan dan 40 persen buat kebutuhan hidup,” jelas Indrawan.

Ia menegaskan, banyak orang merasa gajinya tidak cukup, karena lebih sering membelanjakan uang untuk keinginan, bukan kebutuhan.

Apalagi, fenomena fear of missing out (fomo) yang dipicu tren di media sosial. Membuat orang gampang tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak perlu. “Kuncinya ingat: saving dulu baru shopping,” tegasnya.

Soal investasi, Indrawan mengingatkan masyarakat agar tidak gampang percaya pada iming-iming keuntungan tinggi yang tidak masuk akal.

“Pegang prinsip 2L, logis dan legal. Kalau mau aman, bisa mulai dari reksadana. Lebih simpel, risikonya bisa dipilih, dan dikelola profesional,” tambahnya.

Ia juga menganalogikan investasi dengan rujak. “Kalau saham itu seperti beli satu buah, risikonya bisa tinggi. Sedangkan reksadana seperti beli rujak, isinya beragam. Jadi lebih aman karena tidak ditaruh di satu keranjang,” jelasnya.

Sementara itu, Anugerah Rakhman menambahkan, podcast rutin OJK Jatim hadir, untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat.

“Dengan format santai, topik dan narasumber yang berbeda tiap pekan. Diharapkan pesan-pesan soal keuangan, bisa lebih mudah diterima masyarakat luas,” ungkapnya.

“Tujuannya agar masyarakat makin paham cara mengatur uang dan tidak gampang terjebak investasi bodong. Serta lebih cerdas dalam membangun masa depan finansialnya,” pungkasnya. @Man


 

75

Baca Lainnya