SURABAYA | klikku.id – Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Penduduk dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), Budi Setiyono, menegaskan pentingnya seluruh aparatur sipil negara (ASN) memahami dan menyiapkan diri, dalam menghadapi fase krusial bonus demografi Indonesia.
Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas dan Apresiasi Pengelola Kepegawaian Pusat dan Provinsi Tahun 2025, yang digelar di Ruang Lestari, Kantor Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur, Selasa (28/10) malam.
“Kita sedang berada pada momentum penting. Bonus demografi ini hanya berlangsung sebentar. Kalau tidak dimanfaatkan dengan tepat, kita bisa kehilangan kesempatan menjadi bangsa maju,” ujar Budi dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini bukan sekadar ajang apresiasi bagi ASN berprestasi. Melainkan juga bagian dari capacity building untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) biro kepegawaian di seluruh perwakilan BKKBN. Agar siap menghadapi transformasi kelembagaan sesuai arahan Presiden.
“Melalui Perpres Nomor 180 dan 181, kita yang dulunya badan, kini berubah menjadi kementrian. Sehingga posisi kepegawaian, sekarang bukan lagi teknis, tapi strategis. Untuk itu, ASN harus mampu menyesuaikan diri dengan arah transformasi dan mandat baru. Termasuk dalam upaya mengoptimalkan bonus demografi,” jelasnya.
Menurutnya, Indonesia kini memasuki masa panen dari hasil program Keluarga Berencana (KB) yang telah berjalan selama lima dekade.
“Program KB yang dimulai 50 tahun lalu, kini menunjukkan hasilnya. Tanpa itu, mungkin penduduk kita sudah mencapai 500 juta jiwa. Saat ini sekitar 286 jiwa. Pertanyaannya, apakah kita sedang panen, atau justru gagal memanfaatkan hasil perjuangan itu?” tegasnya.
Ia menekankan, keberhasilan bonus demografi tidak cukup hanya dengan pengendalian populasi. Tetapi juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas manusia dan tata kelola ASN.
“Kalau ingin Indonesia sejajar dengan negara maju, seperti yang sering disampaikan Presiden sebagai ‘Macan Asia’, maka langkah kita juga harus luar biasa. Tidak bisa dengan skenario biasa. Harus ada lompatan,” tandasnya.
Budi menegaskan, transformasi SDM ASN di lingkungan BKKBN menjadi kunci. Agar agenda besar pembangunan manusia dapat tercapai secara presisi.
“Kita harus tahu variabel-variabel apa yang menentukan keberhasilan kapitalisasi bonus demografi, dari pusat sampai ke level paling bawah,” ujarnya.
Ia menutup sambutannya dengan ajakan, agar seluruh ASN menjadikan pelayanan publik sebagai bentuk pengabdian, bukan rutinitas.
“Jangan biarkan slogan ‘Indonesia Emas 2045’ hanya jadi pepesan kosong. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan hasil kerja kita kepada masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Plt. Kabiro SDM Kemendukbangga/BKKBN Kukuh Dwi Setiawan, menambahkan. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pusat dan provinsi, dalam pengelolaan SDM yang tersebar hingga tingkat desa.
“Kami mengelola lebih dari 21 ribu pegawai di seluruh Indonesia. Karena itu, koordinasi dan pemahaman bersama sangat penting. Agar layanan kepegawaian berjalan lancar. Termasuk soal mutasi, digitalisasi layanan, dan fleksibilitas kerja ASN,” jelasnya.
Adapun Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur, Maria Ernawati, menyebut Jawa Timur siap menjadi contoh dalam pelayanan kepegawaian berbasis digital.
“Di Jatim, seluruh layanan kepegawaian sudah online tanpa penundaan. Kami juga terus memperkuat pola karier dan sistem apresiasi, agar ASN semakin termotivasi,” ujarnya.
Ia juga berpesan, agar para peserta dari berbagai provinsi memanfaatkan waktu di Surabaya untuk mengenal potensi daerah. Termasuk wisata kuliner yang menjadi daya tarik Kota Pahlawan.
Kegiatan ini dihadiri perwakilan pengelola kepegawaian Kemendukbangga/BKKBN dari 32 provinsi di Indonesia. Acara berlangsung hingga 30 Oktober, dengan agenda peningkatan kompetensi ASN, sosialisasi transformasi digital kepegawaian, serta penerapan flexible working arrangement di lingkungan BKKBN. @Man
