SURABAYA | klikku.id — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Dr Fauzan MPd menegaskan, pendidikan tinggi bermutu adalah fondasi utama agar Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Revitalisasi perguruan tinggi dinilai mutlak dilakukan untuk menjawab persoalan masyarakat yang kian kompleks.
“Pendidikan adalah kunci dari segalanya. Tanpa pendidikan bermutu, sulit membangun bangsa yang mandiri,” tegas Fauzan di Surabaya, Jumat (6/2).
Menurutnya, perguruan tinggi harus menjadi motor utama pembangunan melalui penguatan kelembagaan dan tata kelola tridarma, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Revitalisasi diperlukan agar mutu, relevansi, dan daya jawab kampus terhadap problem riil semakin kuat.
Fauzan mengingatkan amanat Pasal 31 Ayat 5 UUD 1945, pemerintah memajukan iptek dengan menjunjung nilai agama dan persatuan demi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat.
“Perguruan tinggi adalah penyangga peradaban. Kalau kampus unggul, peradaban bangsa juga akan unggul,” ujarnya.
Ia memaparkan, Indonesia kini memiliki 4.416 perguruan tinggi dengan 303.067 dosen dan hampir 10 juta mahasiswa. Namun, tantangan utama masih berkutat pada mutu, relevansi, dan akses.
“Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi nasional baru sekitar 32 persen. Di Jawa Timur 31,8 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional.
Selama ini, peningkatan akses banyak ditopang beasiswa seperti KIP-K dan dukungan filantropi,” ungkapnya.
Ke depan, skema itu perlu lebih tepat sasaran untuk mendorong kelompok yang belum tersentuh dan belum berminat kuliah. Selain soal akses, kampus dituntut adaptif terhadap karakter Generasi Z.
“Mereka butuh keahlian spesifik dan aplikatif, link ke industri, kepastian kerja, serta sistem yang fleksibel dan berkelanjutan,” kata Fauzan.
Revitalisasi, lanjutnya, harus mengarah pada penguatan pengelolaan tridarma agar menghasilkan kebaruan, nilai kesejahteraan, serta budaya kerja yang sehat.
“Itu kunci agar pendidikan tinggi kita relevan, adaptif, dan siap menghadapi masa depan,” pungkasnya. AMan
