SURABAYA | klikku.id – Kisah inspiratif mewarnai prosesi wisuda di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Rabu (22/4/2026).
Suster (Sr) Yustina Klun Kolo SSpS, mahasiswi lintas agama asal Nusa Tenggara Timur, sukses menuntaskan studi D4 Analis Kesehatan di lingkungan dan kampus yang mayoritas Muslim tersebut.
Perempuan kelahiran Dili, 5 Juli 1994 itu, bahkan dipercaya mewakili wisudawan untuk menyampaikan pidato. Dengan mengenakan jubah biarawati, Yustina berdiri di podium, menyampaikan pesan tentang toleransi dan keberagaman.
Dalam pidatonya, Yustina mengaku, sempat diliputi keraguan saat pertama kali memilih kuliah di Unusa. Tetapi, kekhawatiran itu sirna setelah merasakan langsung suasana kampus.
“Saya merasakan lingkungan yang inklusif. Dosen dan teman-teman tidak pernah membedakan latar belakang,” ujar anak keempat dari tujuh bersaudara tersebut.
Pengalaman Yustina menjadi gambaran nyata penerapan pendidikan inklusif di perguruan tinggi. Di Unusa, nilai toleransi tidak hanya menjadi konsep, tetapi dijalankan dalam aktivitas akademik sehari-hari.
Salah satu contohnya melalui mata kuliah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Bagi Yustina, pembelajaran tersebut justru memperluas perspektifnya.
“Saya belajar memahami nilai keislaman yang moderat dan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis,” ungkapnya.
Selain kurikulum, peran dosen dan tenaga kependidikan juga menjadi faktor kunci. Sikap profesional dan adil dinilai mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi seluruh mahasiswa.
Komitmen Unusa terhadap pendidikan inklusif juga selaras dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas, pengurangan kesenjangan, serta penguatan nilai perdamaian dan keadilan.
Melalui pendekatan tersebut, kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.
Kini, Yustina telah mengabdikan diri sebagai tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit di Blitar. Ia menegaskan, keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun persatuan.
“Perbedaan harus menjadi sarana saling mengenal dan menghargai,” tegasnya.
Di tengah meningkatnya isu intoleransi, kisah Yustina menjadi bukti bahwa kampus dapat menjadi ruang aman untuk belajar, tumbuh, dan membangun harmoni. AMan
