Nasional Peristiwa

Minggu, 30 Agustus 2026 - 23:53 WIB

2 jam yang lalu

logo

Dok gambar foto ist KLIKKU.ID Anam.

Dok gambar foto ist KLIKKU.ID Anam.

Tendangan Bebas Cak Imin Disambar Balik Alumni Muda HMI dan Anas Urbaningrum

JAKARTA | KLIKKU.ID Pernyataan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin yang mengaitkan keterpurukan Nahdlatul Ulama (NU) dengan kepemimpinan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memantik respons dari kalangan alumni HMI.

Polemik itu mencuat setelah Cak Imin dalam acara bedah buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Jombang, Jawa Timur, menyinggung kondisi NU dalam lima tahun terakhir.

“NU harus kita akui jujur terpuruk,” ujar Cak Imin. Ia kemudian mengaitkannya dengan latar belakang kepemimpinan NU dan menyebut, “Yang jelas terpuruk karena dipimpin oleh alumni HMI. Kira-kira begitulah,” sembari tertawa.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat “tendangan balik” dari Ketua Umum Pimpinan Nasional (PIMNAS) Jaringan Alumni Muda Himpunan Mahasiswa Islam (JAM-HMI), Abdullah Amas.

Amas menduga pernyataan Cak Imin justru sengaja diarahkan untuk membangkitkan ghirah kader dan alumni HMI sekaligus memancing perhatian publik terhadap relasi politik dan sejarah dua tradisi organisasi mahasiswa Islam tersebut.

Menurut Amas, Cak Imin selama ini dikenal sebagai figur yang lihai memainkan komunikasi politik. Bahkan, dalam sejumlah momentum, kelihaian Cak Imin dinilai mampu tampil lebih menarik dibandingkan sebagian alumni HMI.

Namun, Amas menilai pernyataan terbaru Cak Imin justru membuat citra tersebut sedikit berubah.

“Cak Imin memang kerap terlihat lihai, bahkan kadang lebih lihai dari alumni HMI. Tapi statemen terbaru yang terkesan membawa-bawa HMI justru membuat kadar ‘keren’-nya sedikit turun,” ujar Amas.

Amas yang juga Ketua Umum JAMLISMA (Jaringan Alumni Lintas Organisasi Mahasiswa Islam dan Kebangsaan)—yang menghimpun alumni HMI, PMII, FEMMI dan sejumlah organisasi lainnya—mengajak seluruh pihak tidak terjebak pada pertentangan identitas organisasi.

Di penghujung pernyataannya, Amas bahkan mengajak Cak Imin bersama keluarga besar HMI dan PMII mempelajari Al-Mubasyirat Sayyid Muhammad Qasim dari Pakistan sebagai salah satu referensi untuk menjaga persaudaraan Islam.

Respons lain datang dari tokoh nasional dan alumni HMI, Anas Urbaningrum. Mantan Ketua Umum PB HMI periode 1997–1999 itu menyampaikan tanggapannya melalui akun X pada Minggu (30/8/2026).

Anas memilih gaya sindiran ringan namun tajam. “Kok kayak kekurangan kosa kalimat aja sampeyan @cakimiNOW,” tulis Anas.

Ia kemudian mengingatkan Cak Imin sebagai sosok yang selama ini dikenal memiliki banyak kelebihan. “Padahal sampeyan dikenal punya kelebihan dalam hampir semua hal. Politisi aktivis dan pemimpin yg lengkap kap,” lanjut Anas.

Meski menyentil pernyataan Cak Imin, Anas menutup pesannya dengan nada persahabatan. “Sehat, waras dan sukses terus ya, Cak. Salam paseduluran,” tulisnya.

Respons Anas tersebut kemudian mendapat balasan dari Cak Imin. Cak Imin menjelaskan bahwa pernyataan mengenai HMI tersebut merupakan bagian dari guyonan internal di lingkungan PMII dan tidak dimaksudkan untuk konsumsi publik.

Polemik ini memperlihatkan bagaimana sejarah, identitas organisasi mahasiswa dan jejaring alumni masih memiliki daya tarik kuat dalam percaturan sosial-politik nasional.

HMI dan PMII sama-sama memiliki jejaring alumni yang luas dan telah melahirkan banyak tokoh di berbagai sektor, termasuk pemerintahan, politik, akademisi, dunia usaha hingga organisasi kemasyarakatan.

Karena itu, ketika identitas organisasi disentuh dalam sebuah pernyataan politik, respons dari jejaring alumninya pun relatif mudah berkembang menjadi percakapan publik.

Di sisi lain, Ketua Harian DPP PKB Najmi Mumtaza Rabbany alias Gus Najmi meminta pernyataan Cak Imin dilihat secara utuh dan proporsional. Menurutnya, Cak Imin sedang mengkritik kepemimpinan dan mengevaluasi kondisi NU, bukan menyerang HMI sebagai organisasi maupun seluruh alumninya.

Panggung pun kini bergeser. Yang semula bermula dari evaluasi terhadap kondisi NU berkembang menjadi percakapan lebih luas mengenai relasi HMI, PMII, NU, politik dan jejaring alumni.

Cak Imin boleh menyebutnya sebagai guyonan internal. Namun ketika guyonan itu dilempar ke ruang publik, respons publik menjadi bagian yang tak terhindarkan.

Dan kali ini, bola yang ditendang Cak Imin dari panggung Jombang justru mendapat smash balik dari jejaring alumni HMI.

Bukan semata soal siapa yang paling benar, tetapi tentang bagaimana para tokoh organisasi besar menjaga agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi pertarungan identitas yang justru merusak persaudaraan.

#Anam KLIKKU.ID

39

Baca Lainnya