Internasional

Selasa, 22 September 2026 - 17:38 WIB

1 jam yang lalu

logo

Seruan kepada Semua Kalangan di Indonesia untuk Mendukung Partisipasi Taiwan di PBB dan Memulihkan Kepercayaan Multilateral di Kawasan Indo-Pasifik

SURABAYA | klikku.id – Sidang Majelis Umum PBB ke-81 tahun ini, telah resmi dibuka pada tanggal 8 September di New York, dengan tema ” Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations That Delivers for All ” (Memulihkan Kepercayaan, Mengelola Transformasi: PBB yang Memberikan Hasil Nyata bagi Semua), dan menyelenggarakan Debat Umum mulai hari ini, tanggal 22 hingga 28 September.

Menghadapi ketegangan geopolitik saat ini dan “defisit kepercayaan” yang dialami multilateralisme, saya secara tulus mengimbau, demi mencegah meluasnya konflik regional yang ada ke Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik, sekaligus memulihkan kepercayaan terhadap PBB dalam menyelesaikan isu-isu keamanan dan tindakan multilateral, Semua kalangan di Indonesia hendaknya mendukung partisipasi Taiwan di PBB lembaga-lembaga terkait.

Dalam beberapa tahun terakhir, China terus meningkatkan ancaman di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Selat Taiwan, melalui latihan militer, tekanan ekonomi dan sebagainya, dalam upaya secara sepihak mengubah status quo di Selat Taiwan dan kawasan tersebut.

Pada bulan April tahun ini, sebuah kendaraan bawah air tanpa awak (UUV) buatan China ditemukan di Selat Lombok, Indonesia, memicu keraguan dari berbagai pihak mengenai apakah pihak China menggunakan penelitian ilmiah sebagai kedok untuk tujuan militer.

Pada bulan Juli tahun ini, China mengumumkan “Undang-Undang Promosi Kemajuan Persatuan Etnis”, yang berpotensi digunakan melalui kedutaan, konsulat, dan organisasi luar negeri China di Indonesia untuk melakukan penindasan lintas negara, termasuk melakukan pelecehan secara sewenang-wenang atau menjatuhkan hukuman kolektif terhadap warga di wilayah Indonesia yang dianggap tidak mematuhi undang-undang tersebut, serta mengabaikan kedaulatan setiap negara, sehingga memicu perhatian dari komunitas demokrasi internasional.

Pada bulan Agustus tahun ini, China bahkan memanfaatkan latihan lintas laut (PASSEX) yang biasa dilakukan bersama Angkatan Laut Indonesia di perairan sebelah timur Taiwan untuk mempropagandakan secara tidak benar bahwa mereka melakukan latihan militer bersama dengan Indonesia di perairan sebelah timur Taiwan.

Meskipun Angkatan Laut Indonesia telah memberikan klarifikasi, sistem propaganda China terkait masih terus menyesatkan publik. Isu-isu yang berkaitan dengan rasa saling percaya antar anggota kawasan ini harus mendapat perhatian dan regulasi dari negara-negara anggota PBB.

Sebagai pihak yang berada di garis depan dalam menghadapi pemaksaan China, Taiwan tetap akan teguh menjaga perdamaian Selat Taiwan, serta memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menyuarakan hal ini melalui partisipasi dalam forum PBB.

Tindakan PBB yang berada di bawah tekanan China untuk mengecualikan partisipasi 23,5 juta rakyat Taiwan, bahkan menyebabkan warga Taiwan tidak dapat memasuki Gedung PBB untuk berkunjung dengan menggunakan paspor mereka, juga merupakan salah satu penyebab PBB kini menghadapi defisit kepercayaan. China memutarbalikkan isi Resolusi Majelis Umum PBB 2758 dan mengaburkan apa yang disebutnya sebagai “Prinsip Satu China” untuk mempersempit ruang lingkup interaksi Indonesia dan negara-negara lain dengan Taiwan di bawah “Kebijakan Satu China”. Pada kenyataannya, resolusi tersebut hanya menangani masalah keterwakilan China di PBB, tidak menyebutkan tentang Taiwan, dan sama sekali tidak memberi wewenang kepada China untuk mewakili Taiwan. Serangkaian langkah ini tidak hanya bertujuan untuk menghapus fakta kedaulatan Taiwan secara hukum, tetapi juga secara tidak wajar merampas hak sah Taiwan untuk berpartisipasi dalam sistem PBB.

Taiwan mengintegrasikan kekuatan teknologi, ekonomi, medis dan kesehatannya untuk memajukan “Proyek Kemakmuran Sekutu Diplomatik “dan “Diplomasi Terpadu” yang saling menguntungkan dengan negara-negara sekutu, membantu meningkatkan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat di negara-negara sekutu seperti Palau, Paraguay, dan Eswatini.

Pada saat yang sama, Taiwan juga membantu Indonesia bagian timur, seperti menyelenggarakan seminar medis internasional di Jawa Timur, serta bekerja sama dengan kalangan akademisi di Sulawesi Selatan dalam promosi pemuliaan benih jagung.

Lebih dari 330.000 pekerja migran Indonesia di Taiwan, yang mayoritas berasal dari Indonesia bagian timur, mendapatkan perlakuan yang baik dan memperoleh keterampilan profesional, yang menunjukkan komitmen Taiwan terhadap pembangunan Indo-Pasifik dan global.

Taiwan merupakan kekuatan penting yang tak terpisahkan dalam upaya PBB menghadapi perubahan; menjaga perdamaian di Selat Taiwan bukan hanya konsensus arus utama internasional, tetapi juga merupakan unsur penting bagi kemakmuran dan keamanan global.

Kami sekali lagi menyerukan kepada seluruh kalangan di Indonesia untuk mendukung upaya Taiwan dalam berpartisipasi di PBB, sebagai kekuatan penjaga stabilitas yang dapat memulihkan rasa saling percaya multilateral di kawasan -Pasifik.

Director General TETO Surabaya, David Lin


AM@n

28

Baca Lainnya