Daerah Ekonomi Bisnis Pelayanan Publik Pemerintahan

Kamis, 24 September 2026 - 14:10 WIB

59 menit yang lalu

logo

Dok gambar foto ist KLIKKU.ID ANAM Biro BANGKALAN.

Dok gambar foto ist KLIKKU.ID ANAM Biro BANGKALAN.

Komoditas Kelapa Dalam dan Genjah Jadi Fokus Pengembangan Ekonomi Pertanian Bangkalan Jangka Panjang

Bangkalan | KLIKKU.ID — Pengembangan tanaman kelapa di Kabupaten Bangkalan mulai diarahkan pada dua karakter komoditas yang memiliki keunggulan berbeda, yakni kelapa dalam dan kelapa genjah.

Keduanya diproyeksikan tidak sekadar menjadi tanaman penghijauan maupun bantuan bibit bagi petani, tetapi bagian dari pengembangan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi, dengan karakter kelapa genjah untuk peluang produksi lebih cepat dan kelapa dalam sebagai tanaman produktif jangka panjang.

Arah tersebut terlihat dalam momentum penanaman bibit kelapa secara simbolis oleh Bupati Bangkalan Lukman Hakim di Kelurahan Bancaran, Kecamatan Bangkalan, Kamis (24/9/2026).

Penanaman tersebut disaksikan Imron Rosyadi, Sekretaris DPW Tani Merdeka Indonesia Jawa Timur sekaligus Ketua Koperasi Tamindo Cahaya Nusantara, Dr. CHK Kusumas Karyadinata (CHK), jajaran pejabat Pemkab Bangkalan, tokoh masyarakat serta para petani penerima manfaat.

Kelapa dalam dan kelapa genjah mempunyai karakter yang berbeda sehingga keduanya memberikan peluang yang berbeda pula bagi petani.

Kelapa genjah dikenal memiliki karakter tanaman yang relatif lebih pendek dan dapat memasuki masa produksi lebih cepat. Karakter tersebut memberikan peluang bagi petani untuk memperoleh hasil dalam waktu lebih singkat dibandingkan kelapa dalam.

Sementara kelapa dalam memiliki pertumbuhan yang lebih besar dan membutuhkan waktu lebih panjang untuk memasuki masa produksi. Namun, keunggulannya terletak pada umur produktif yang panjang.

Imron Rosyadi menjelaskan bahwa salah satu keunggulan kelapa dalam yang dikembangkan adalah kemampuan produksinya dalam jangka waktu yang panjang. “Umur produksinya paling lama,” kata Imron.

Ketika ditanya mengenai potensi umur produksinya, Imron menyebut tanaman tersebut dapat bertahan produktif hingga sekitar 60 tahun. “Bisa sampai 60 tahun,” ujarnya.

Karakter tersebut menjadikan kelapa dalam bukan hanya tanaman pertanian untuk memenuhi kebutuhan produksi saat ini, tetapi juga dapat dipandang sebagai investasi perkebunan jangka panjang bagi petani.

Sementara kelapa genjah memiliki sisi keunggulan yang berbeda. Dengan masa produksi yang relatif lebih cepat dan karakter pohon yang lebih pendek, jenis ini memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai sumber produksi yang dapat memberikan hasil lebih awal sekaligus relatif lebih mudah dalam proses pemanenan.

Dengan demikian, keberadaan kedua jenis kelapa tersebut dapat ditempatkan dalam satu arah pengembangan: genjah memberikan peluang produksi lebih cepat, sedangkan kelapa dalam menjadi fondasi produksi jangka panjang.

Untuk memastikan proses penanaman dilakukan pada waktu yang tepat, bibit yang dipersiapkan saat ini belum seluruhnya langsung dipindahkan ke lahan kelompok penerima.

Imron mengatakan bibit masih ditempatkan di lahan nursery sambil menunggu datangnya musim hujan. “Bibit masih dititip di lahan nursery sampai musim hujan turun,” kata Imron.

Tahapan tersebut menjadi bagian penting karena keberhasilan tanaman tidak hanya ditentukan oleh kualitas bibit, tetapi juga kondisi lahan dan waktu penanaman.

Setelah kondisi dinilai sesuai, bibit akan diarahkan untuk ditanam di lahan kelompok petani penerima manfaat.

Pengembangan dua jenis kelapa tersebut didukung penyediaan sekitar 11 ribu bibit kelapa tersertifikasi melalui Koperasi Tamindo Cahaya Nusantara. Programnya menyasar lima kelompok petani dengan total lahan sekitar 100 hektare.

Kelima kelompok tersebut yakni Panen Raya di Kecamatan Bangkalan, Membangun II di Kecamatan Klampis, Tani Jaya Satu Maneron di Kecamatan Sepulu, Mandiri Lima di Kecamatan Tanjung Bumi, serta Rukun Tani di Kecamatan Geger.

Dalam perencanaan awal, kebutuhan bibit tercatat sekitar 10 ribu bibit, masing-masing sekitar 2.000 bibit untuk setiap kelompok. Namun, dukungan bibit yang disiapkan Koperasi Tamindo Cahaya Nusantara disebut mencapai sekitar 11 ribu bibit tersertifikasi.

Bagi Imron, dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen DPW Tani Merdeka Indonesia Jawa Timur untuk ikut mendorong program kemandirian pangan, termasuk melalui pengembangan dan hilirisasi kelapa. “DPW Tani Merdeka Indonesia Jawa Timur berkomitmen dan bertindak nyata untuk mendukung program kemandirian Presiden Prabowo, di antaranya melalui hilirisasi kelapa,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pengembangan tersebut merupakan salah satu usulan dari DPD Tani Merdeka Indonesia Bangkalan.

Bagi Pemkab Bangkalan, pengembangan kelapa dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Bupati Lukman Hakim dalam momentum penanaman simbolis tersebut menunjukkan dukungan terhadap pengembangan pertanian dan upaya mewujudkan kemandirian pangan di daerah.

Orientasinya bukan hanya bagaimana bibit dapat ditanam, tetapi bagaimana tanaman tersebut nantinya tumbuh, menghasilkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dalam konteks tersebut, dua jenis kelapa yang dikembangkan mempunyai peran yang berbeda.

Kelapa genjah dapat menjadi pilihan untuk mengejar produksi lebih awal, sedangkan kelapa dalam memberikan prospek produksi dalam rentang waktu yang jauh lebih panjang.

Kombinasi karakter tersebut membuat pengembangan keduanya dapat menjadi bagian dari strategi membangun komoditas kelapa yang tidak hanya berorientasi pada satu periode produksi.

Sementara itu, Dr. CHK Kusumas Karyadinata, selaku Plt. Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangkalan, memiliki peran dalam memastikan program pengembangan tersebut dapat berjalan pada tingkat kelompok penerima.

Bibit yang telah disiapkan tetap membutuhkan pemeliharaan dan pendampingan agar mampu tumbuh secara optimal.

Hal tersebut menjadi semakin penting untuk kelapa dalam karena orientasi produksinya memang bersifat jangka panjang. Begitu pula kelapa genjah, meskipun lebih cepat memasuki masa produksi, tetap membutuhkan pemeliharaan agar produktivitasnya dapat dipertahankan.

Karena itu, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang tersalurkan.

Ukuran keberhasilannya juga berada pada berapa banyak tanaman yang tumbuh dengan baik, produktif dan kemudian mampu memberikan pendapatan kepada petani. Pengembangan kelapa dalam dan genjah juga membuka peluang lebih jauh pada aspek hilirisasi.

Hasil kelapa nantinya tidak harus berhenti sebagai komoditas mentah. Buah kelapa dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang memiliki nilai tambah, sehingga membuka ruang ekonomi baru mulai dari petani, kelompok pengelola, pelaku usaha hingga pemasaran.

Di sinilah perbedaan karakter kedua jenis kelapa menjadi bagian penting dalam perencanaan. Genjah dengan peluang produksi lebih cepat dapat mendukung perputaran hasil dalam waktu relatif lebih singkat. Kelapa dalam dengan umur produktif yang dapat mencapai sekitar 60 tahun, menurut Imron, menjadi aset pertanian yang dapat diwariskan dan dikelola dalam jangka panjang.

Penanaman simbolis yang dilakukan Bupati Lukman di Kelurahan Bancaran akhirnya bukan sekadar seremoni. Dibalik satu bibit yang ditanam, terdapat dua arah pengembangan komoditas: kelapa genjah untuk membuka peluang produksi lebih cepat dan kelapa dalam untuk membangun basis produksi jangka panjang.

Keduanya diharapkan tumbuh bersama dengan kelompok petani, didukung pendampingan pemerintah serta diperkuat melalui hilirisasi, sehingga pengembangan kelapa di Bangkalan tidak berhenti di lahan, tetapi berkembang menjadi rantai ekonomi pertanian dari hulu hingga hilir.

#Anam KLIKKU.ID

11

Baca Lainnya