SURABAYA | klikku.id – Di tengah industri fesyen yang semakin mengandalkan produksi cepat dan mesin, Batik Tuban Lokcan memilih mempertahankan cara tradisional.
Tenun Gedog dan Batik Tulis khas Tuban tetap dibuat secara manual, dari pengolahan kapas hingga menjadi kain.
Pemilik Batik Tuban Lokcan, Carlina Ita Ratna Yunita, mengatakan proses panjang tersebut justru menjadi nilai tambah produknya. Setiap kain memiliki karakter berbeda karena dikerjakan langsung oleh perajin.
Upaya menjaga proses tradisional dimulai dari bahan baku. Ita menanam kapas sendiri di lahan khusus. Kapas yang dipanen kemudian diolah secara manual menjadi benang, sebelum ditenun menggunakan alat tradisional.
Kain hasil tenunan selanjutnya masuk proses batik melalui pencantingan dan pewarnaan dengan racikan khusus.
“Seluruh rantai produksi kami lakukan secara berurutan. Butuh waktu sekitar satu bulan dari kapas dipetik sampai jadi sehelai kain,” ujar Ita di sela kegiatan FESyar Regional Jawa 2026 di Grand City Surabaya, Jumat (25/9/2026).
Menurut Ita, proses tersebut bukan sekadar mempertahankan teknik produksi warisan leluhur. Cara pembuatan yang dikerjakan dengan tangan juga menjadi bagian dari cerita dan identitas produk.
Dari sisi bisnis, strategi tersebut tetap memiliki pasar. Dalam kondisi normal, Batik Tuban Lokcan mampu membukukan omzet sekitar Rp50 juta per bulan.
Angkanya dapat meningkat ketika mengikuti pameran berskala besar atau peragaan busana di sejumlah kota. Ita menyebut omzet bulanan bisa mencapai sekitar Rp100 juta.
“Omzet bisa melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp100 juta per bulan kalau kami aktif mengikuti pameran besar dan catwalk di kota-kota metropolitan seperti Jakarta,” katanya.
Karena itu, keikutsertaan dalam pameran seperti FESyar Jawa 2026 tidak hanya ditujukan untuk mengejar transaksi. Bagi Ita, pameran menjadi ruang untuk memperkenalkan proses pembuatan sekaligus membuka akses pasar baru.
Ia berharap Tenun Gedog dan Batik Tulis Tuban semakin dikenal sebagai produk budaya yang memiliki nilai ekonomi.
Batik Tuban Lokcan pun berupaya membuktikan bahwa produksi tradisional tetap dapat berjalan berdampingan dengan kebutuhan pasar modern, tanpa harus kehilangan identitasnya. AM@n
