SURABAYA | klikku.id – Bank Indonesia (BI) mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tidak berhenti pada meningkatnya pemahaman masyarakat.
Tantangan berikutnya adalah mengubah literasi tersebut menjadi penggunaan nyata produk dan layanan syariah.
Hal itu menjadi salah satu fokus Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 di Surabaya. Koordinator FESyar Regional Jawa 2026, Yono Haryono, mengatakan penguatan literasi harus berjalan beriringan dengan inklusi.
Menurut dia, perkembangan ekonomi syariah Indonesia dalam satu dekade terakhir menunjukkan kemajuan. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, Indonesia kini berada di posisi keempat dunia, naik dari peringkat ke-10 sekitar 10 tahun lalu.
“Kalau kita lihat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, ketika Bank Indonesia mulai menginisiasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, kita berada di peringkat 10. Dengan berjalannya waktu, salah satunya melalui kontribusi berbagai kegiatan termasuk Festival Ekonomi Syariah, alhamdulillah tahun ini kita berada di peringkat keempat,” ujar Yono.
Dari sisi literasi, hasil Survei Nasional Literasi Ekonomi Syariah 2025 BI menunjukkan indeks literasi mencapai 50,18 persen. Angka itu meningkat dari 42,84 persen pada 2024.
Namun, kenaikan pemahaman belum cukup. Masyarakat yang sudah mengenal prinsip dan produk syariah juga perlu memiliki akses serta preferensi untuk menggunakannya.
“Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana dari yang tadinya memahami, kita bisa menggeser preferensinya menjadi inklusif. Jadi tidak berhenti pada literasi, tetapi juga bagaimana masyarakat menggunakan produk dan layanan ekonomi serta keuangan syariah,” jelasnya.
Yono mengatakan penguatan ekosistem membutuhkan keterlibatan pemerintah, industri, lembaga pendidikan, pelaku usaha, komunitas hingga media.
Indonesia juga dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan sektor tersebut. Dengan populasi muslim yang besar, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar produk halal, tetapi mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar.
“Kita termasuk negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Selama ini kita hanya menjadi pasar. Seharusnya dengan populasi yang besar, kita menjadi produsen, bukan hanya konsumen,” katanya.
Pesantren juga dinilai memiliki potensi besar sebagai basis pengembangan usaha dan produksi halal. BI mendorong penguatan ekosistem pesantren sekaligus rantai nilai halal, pembiayaan syariah, serta literasi dan inklusi.
Melalui FESyar, penguatan kolaborasi tersebut diharapkan semakin memperluas peran ekonomi syariah hingga sektor riil dan memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat. AM@n
