SURABAYA | klikku.id – Lebih dari separuh mahasiswa Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) telah bekerja sebelum resmi diwisuda.
Fakta tersebut terungkap dalam Wisuda ke-22 Unusa yang digelar Selasa (19/9). Kondisi itu menjadi gambaran keterhubungan pendidikan yang diberikan kampus dengan kebutuhan dunia kerja.
Selain pengalaman kerja, mahasiswa D-IV K3 juga dibekali Sertifikat Kompetensi Ahli K3 Muda dari LSP Unusa. Sertifikasi tersebut dinilai membantu mahasiswa mempersiapkan diri memasuki dunia profesional.
Salah satu wisudawan, Zulfi Ahmad Ruhan, mengaku materi perkuliahan yang diterimanya banyak berkaitan dengan kebutuhan di lapangan. Ia juga menilai sejumlah mata kuliah di K3 Unusa memiliki materi yang tidak ditemukan di sejumlah kampus lain.
“Karena saya aktif di FMK3N (Forum Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, red) jadi sering berbagi cerita dengan rekan-rekan dari kampus lain, dan ada beberapa mata kuliah di UNUSA itu tidak ada di kampus lain. Bahkan kampus negeri, jadi saya merasa beruntung bisa masuk di K3 UNUSA,” ujarnya.
Zulfi kini bekerja di salah satu perusahaan di Cikarang yang bergerak di bidang keramik dan kaca. Wisudawan lainnya, Naufal Bafiq Belvatrivano, bahkan telah diterima bekerja di perusahaan batu bara di Kalimantan Utara meski belum menerima ijazah.
Menurut Naufal, fasilitas sertifikasi K3 yang disediakan kampus turut memudahkan mahasiswa mengikuti proses sertifikasi tanpa harus mencarinya di luar kampus.
Kondisi serupa juga dialami Anis Nailun, wisudawan S1 Gizi. Lulusan D3 Gizi Politeknik Kesehatan Surabaya itu melanjutkan pendidikan melalui program alih jenjang S1 Gizi di Unusa sambil bekerja sebagai petugas gizi di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.
Anis mulai bekerja pada Januari 2024. Ia pernah bertugas di Puskesmas Krembangan Selatan sebelum kemudian ditempatkan di Puskesmas Sidotopo Wetan.
Di tengah aktivitas kerja, Anis tetap menyelesaikan kuliah dan praktik. Salah satunya PKL selama sebulan di RS Bhayangkara yang dijalani setelah menyelesaikan pekerjaan di puskesmas.
“Capek pasti, karena setelah pulang kerja jam setengah tiga, saya langsung lanjut PKL di rumah sakit. Itu berlangsung sekitar satu bulan, jadi memang harus pintar-pintar membagi waktu antara kerja dan kuliah,” ungkapnya.
Sementara itu, dari 1.038 wisudawan Unusa, terdapat 14 wisudawan non-Muslim. Sebanyak 11 orang atau 78,6 persen di antaranya meraih predikat lulus dengan sangat memuaskan.
Rektor Unusa Prof Ir Tri Yogi Yuwono berpesan agar para lulusan membawa tiga hal ketika memasuki dunia profesional, yakni ketekunan dan kerja keras, integritas serta empati, dan tidak melupakan jasa orang tua.
“Pintar saja tidak cukup jika tidak memiliki akhlak yang mulia,” tegasnya. AM@n
