Sosial

Senin, 1 Juli 2024 - 09:23 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Fenomena Klitih : Konflik Sosial dan Budaya?

Surabaya | klikku.net – Klitih, sebuah kata yang mungkin terdengar asing bagi beberapa orang, namun bagi warga Yogyakarta, itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Klitih bukanlah sekadar pertengkaran kecil antara dua individu, tetapi merupakan fenomena yang melibatkan sejumlah orang dalam sebuah konflik yang berkepanjangan. Asal mula klitih dapat ditelusuri ke dalam budaya lokal Jawa yang kaya akan tradisi dan nilai-nilai yang kental, klitih pada awalnya seperti ajang mempertunjukan bakatnya dan hal tersebut bersifat positiftetapi semakin berkembangnya zaman klitih berubah makna menjadi negatif, kegiatan negatif yang dimaksut adalah berubah menjadi ajang untuk menciptakan sebuah konflik sosial dan budaya dengan menyesar siapa saja yang ada dijalan raya tanpa melihat umur atau target tertentu. 

 Klitih memiliki makna yang kompleks. Secara harfiah, klitih dapat diartikan sebagai perkelahian atau pertengkaran kecil. Namun, di balik kata tersebut, terdapat lapisan-lapisan makna yang lebih dalam. Klitih sering kali berawal dari perbedaan pendapat atau pandangan antara dua pihak, baik itu terkait dengan urusan sehari-hari, tradisi, maupun kepercayaan. Fenomena ini tidak semata dilihat sebagai kelompok kekerasan yang dikendalikan secara represif.

Menariknya, fenomena klitih ini dapat dilihat dari sudut pandang teori kontrol sosial. Dalam bahasa yang lebih sederhana, teori ini menyatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh norma-norma sosial dan kontrol sosial yang ada dalam masyarakat. Dalam konteks klitih, ketika norma-norma tersebut dilanggar, konflik pun muncul. Misalnya, ketika salah satu pihak merasa norma atau tradisi yang mereka pegang dihina atau tidak dihargai oleh pihak lain.

Menurut teori kontrol sosial dalam kriminologi, penyebab dari remaja yang melakukan klitih adalah ketidaksadaran perang orang tua dalam memberikan perhatian kepada anak-anak mereka.

Lebih jauh lagi, didalam kriminologi budaya, klitih sebagai sub kultur menyimpang yang memilih jalan bahwa kekerasan menjadi budaya atau crime as culture lingkup dari pergaulan mereka.

konflik budaya lokal di Yogyakarta. Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat tersebut. Dalam klitih, sering kali terjadi benturan antara nilai-nilai tradisional dan modern, antara adat istiadat dan perkembangan zaman. Klitih menjadi wadah di mana konflik-konflik tersebut tersalurkan.

Mengambil kasus klitih sebagai studi kejahatan budaya, kita dapat lebih memahami nilai-nilai, norma, dan konflik yang mempengaruhi kehidupan sosial di dalamnya. Penting bagi masyarakat Yogyakarta untuk menyadari bahwa klitih bukanlah hal yang bisa disepelekan. Klitih dapat merusak tatanan sosial dan budaya yang telah dijaga dengan baik selama ini.

Oleh karena itu, sebagai langkah preventif, masyarakat perlu memperkuat lagi nilai-nilai kebersamaan, saling menghormati, dan toleransi. Edukasi tentang pentingnya menjaga kerukunan antarwarga serta memahami perbedaan-perbedaan budaya juga harus ditingkatkan. Selain itu, pemerintah dan lembaga terkait juga perlu mengambil peran aktif dalam penyelesaian konflik klitih dengan pendekatan yang lebih humanis dan berbasis pada dialog serta mediasi.

Dengan demikian, diharapkan klitih tidak lagi menjadi ancaman bagi harmoni sosial dan budaya di Kota Yogyakarta, melainkan menjadi cerminan dari kekayaan budaya dan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh masyarakatnya.


penulis : Niken Saptaning Tiyas

editor : Rizchi Hari Setiawan, S.H

338

Baca Lainnya