Surabaya | klikku.id – Indonesia masih bercokol di posisi ketiga pencemar plastik terbesar dunia, di bawah India dan Nigeria. Fakta ini diungkap pegiat lingkungan Prigi Arisandi, pendiri Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan (Ecoton).
“Ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Semua pihak harus bergerak mengurangi produksi dan penggunaan plastik,” ujarnya, Minggu (21/9).
Menurut Prigi, Surabaya jadi salah satu titik rawan pencemaran mikroplastik karena berada di hilir Sungai Brantas. Sampah dari Malang, Batu, dan 16 kota/kabupaten lain akhirnya bermuara ke pesisir seperti Tambak Wedi, Wonorejo, hingga Wonokromo.
“Surabaya punya PR besar untuk menanggulangi sampah plastik,” tegasnya.
Meski begitu, ia mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya yang mulai membatasi plastik sekali pakai, mulai dari tas kresek, sedotan, styrofoam, sachet, hingga botol kemasan. Edukasi publik juga dinilai penting agar kesadaran masyarakat meningkat.
Prigi mengingatkan bahaya mikroplastik yang bisa masuk ke tubuh manusia melalui udara maupun makanan laut, bahkan berpotensi mencemari organ vital dan mengancam janin di kandungan.
“Kalau tidak dikendalikan, dampaknya serius bagi kesehatan dan masa depan generasi mendatang,” katanya.
Ia berharap warga Surabaya memperkuat gerakan mengurangi sampah plastik dan memilih produk ramah lingkungan.
“Jangan biarkan plastik menumpuk dan membanjiri kota ini. Semua bisa dimulai dari kebiasaan kecil, seperti membawa tas belanja sendiri atau memakai botol minum isi ulang,” pesannya. R3D
