Pemerintahan

Kamis, 9 Oktober 2025 - 10:29 WIB

7 bulan yang lalu

logo

Kasus Kebakaran Surabaya Meningkat, DPKP Tekan Waktu Tanggap Jadi 6,5 Menit!

Surabaya | klikku.id – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya mempercepat waktu tanggap (response time) dari semula tujuh menit menjadi 6,5 menit.

Langkah ini dilakukan untuk memperkecil risiko korban jiwa dan kerugian material akibat kebakaran yang meningkat tajam selama September.

Kepala DPKP Surabaya Laksita Rini Sevriani mengatakan percepatan itu merupakan bagian dari strategi peningkatan kesiapsiagaan petugas di lapangan.

“Kami terus berupaya memberikan pelayanan terbaik. Kini, rata-rata petugas kami hanya butuh 6,5 menit untuk sampai di lokasi kejadian. Tujuannya agar risiko kebakaran bisa ditekan sekecil mungkin,” ujar Laksita Rini, Kamis (9/10).

Menurut catatan DPKP, sepanjang September 2025 terjadi 51 kasus kebakaran di Surabaya. Angka ini melonjak signifikan dibanding bulan-bulan sebelumnya. Sebagian besar disebabkan oleh cuaca ekstrem dan kelalaian manusia.

“Dari total kejadian itu, 20 kasus adalah kebakaran alang-alang atau lahan terbuka. Cuaca panas dan angin kencang membuat kondisi sangat mudah terbakar,” jelasnya.

Faktor alam, kata Laksita, tak bisa diabaikan. Rumput kering dan adanya pecahan kaca di lahan terbuka bisa berperan layaknya lensa pembesar yang memfokuskan panas sinar matahari hingga memicu api.

Namun, faktor manusia tetap mendominasi. Kebiasaan membakar sampah sembarangan masih menjadi pemicu utama.

“Seringkali daun kering atau bara api terbawa angin lalu menyambar area lain. Api cepat merembet,” ujarnya.

Selain lahan terbuka, kebakaran permukiman juga tinggi, mencapai 12 kasus selama September. Umumnya disebabkan oleh kelalaian di dapur dan masalah instalasi listrik.

“Kami imbau warga, terutama ibu rumah tangga, jangan meninggalkan kompor menyala meski hanya sebentar. Banyak kebakaran terjadi karena lupa mematikan api,” pesan Laksita.

Ia juga menyoroti kebiasaan charging HP di kasur atau penggunaan alat listrik tidak sesuai fungsi, seperti hair dryer untuk mengeringkan benda selain rambut. Praktik ini bisa menyebabkan panas berlebih (overheat) dan memicu kebakaran.

“Gunakan instalasi listrik yang sesuai standar. Jangan menumpuk sekring, jangan pakai kabel kecil untuk beban besar. Sekarang hampir semua rumah punya banyak alat elektronik, jadi harus hati-hati,” tegasnya.

DPKP kini gencar menggelar sosialisasi dan simulasi kebakaran mulai tingkat PAUD, sekolah, hingga kelompok PKK. Tujuannya membangun kesadaran pencegahan sejak dini.

“Kami tekankan, tiga menit pertama sangat penting. Kalau api belum bisa dikendalikan, segera hubungi 112. Jangan tunggu sampai api membesar,” tandasnya. In.Joe.nesia


 

77

Baca Lainnya