Ekonomi Bisnis Pemerintahan

Selasa, 21 April 2026 - 08:34 WIB

15 jam yang lalu

logo

Efek Lebaran! Penjualan Ritel Maret 2026 Diprediksi Melejit 13,6%

SURABAYA | klikku.id – Kinerja penjualan eceran pada Maret 2026 diprakirakan menguat, didorong lonjakan permintaan menjelang Idulfitri.

Hal itu tercermin dari Survei Penjualan Eceran yang menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) mencapai 525,2 atau tumbuh 13,6 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi Februari 2026 yang tumbuh 13,2 persen. Secara bulanan (month to month/mtm), penjualan ritel juga diperkirakan meningkat 8,4 persen, lebih tinggi dari Februari sebesar 4,2 persen.

Peningkatan terutama ditopang oleh kelompok suku cadang dan aksesori serta subkelompok sandang. Lonjakan ini seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat menghadapi momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah.

Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta barang budaya dan rekreasi tetap mencatatkan pertumbuhan positif. Sementara bahan bakar kendaraan bermotor mulai membaik meski masih dalam fase kontraksi.

Di sisi lain, pertumbuhan tertahan oleh penurunan pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi serta perlengkapan rumah tangga lainnya.

Untuk Februari 2026, IPR tercatat sebesar 484,3. Secara tahunan tumbuh 13,2 persen, naik dari Januari yang sebesar 10,9 persen.

Secara bulanan, penjualan juga berbalik tumbuh 4,2 persen setelah sebelumnya terkontraksi minus 4,9 persen pada Januari.

Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya aktivitas belanja saat momen Imlek, cuti bersama, hingga awal Ramadan. Program diskon dari pelaku usaha juga turut mendongkrak penjualan.

Ke depan, kinerja ritel diperkirakan tetap positif. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk Mei 2026 tercatat 143,9, didorong momentum Iduladha dan berbagai event tahunan. Sementara Agustus 2026 diproyeksikan naik menjadi 167,1 seiring perayaan Hari Kemerdekaan.

Namun, potensi perlambatan tetap perlu diwaspadai. Ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah, berisiko mendorong kenaikan harga energi dan menekan daya beli masyarakat. AMan


 

17

Baca Lainnya