SURABAYA | klikku.id – Optimisme masyarakat Jawa Timur terhadap kondisi perekonomian masih terjaga.
Hal itu tercermin dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Jawa Timur pada Mei 2026, berada di level 122,6 atau masih jauh di atas ambang optimistis sebesar 100.
Capaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang tercatat sebesar 120,9.
Meski mengalami sedikit penurunan dibanding bulan sebelumnya, tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun enam bulan ke depan tetap berada dalam zona positif.
Direktur Eksekutif Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menjelaskan bahwa optimisme konsumen ditopang oleh persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang masih baik.
“Keyakinan konsumen tetap kuat karena didukung persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ekonomi ke depan,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Kamis (11/6/2026).
Survei BI mencatat Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 116,2, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) berada di angka 129,0.
Kedua indikator tersebut memang sedikit lebih rendah dibandingkan April 2026, namun masih menunjukkan optimisme yang kuat.
Menurut Ibrahim, kondisi ekonomi saat ini didukung oleh tingkat pendapatan masyarakat yang masih baik, ketersediaan lapangan kerja yang tetap terjaga, serta aktivitas pembelian barang tahan lama yang masih cukup tinggi.
Sementara itu, optimisme terhadap enam bulan mendatang ditopang oleh ekspektasi positif terhadap kegiatan usaha, peningkatan pendapatan, dan peluang kerja.
Meski demikian, BI mengingatkan adanya sejumlah risiko eksternal yang perlu diwaspadai, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik global akibat konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi sentimen ekonomi.
Secara wilayah, optimisme konsumen tercatat merata di seluruh daerah survei, yakni Surabaya, Malang, Kediri, dan Jember.
Dari sisi pengelolaan keuangan rumah tangga, mayoritas pendapatan masyarakat masih dialokasikan untuk konsumsi dengan porsi mencapai 70,1 persen.
Sementara itu, pembayaran cicilan menyerap 11,7 persen pendapatan dan sisanya 18,1 persen dialokasikan untuk tabungan.
“Kondisi tersebut menunjukkan daya beli masyarakat Jawa Timur masih cukup terjaga dan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya. AM@n
