BANGKALAN | KLIKKU.ID — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk menggali dan menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun karakter kepemimpinan yang amanah, adil dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Syaiful Anam, S.Pd, Ketua Perkumpulan Jurnalis Bangkalan, saat menyoroti makna penting peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di tengah kehidupan masyarakat pada era kekinian.
Menurut Anam, salah satu keteladanan terbesar Rasulullah SAW yang sangat relevan hingga saat ini adalah kepemimpinan beliau dalam menghadapi berbagai persoalan dan perubahan besar pada zamannya.
Rasulullah SAW, kata Anam, tidak hanya menjadi pemimpin dalam konteks keagamaan, tetapi juga menunjukkan bagaimana seorang pemimpin membangun masyarakat melalui keteladanan, musyawarah, keadilan, keberanian mengambil keputusan, serta kepedulian terhadap kondisi umat.
“Kalau kita berbicara tentang Maulid Nabi, jangan hanya melihatnya sebagai momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Kita juga perlu melihat bagaimana beliau menjadi pemimpin yang mampu menghadapi berbagai persoalan besar dengan kesabaran, kecerdasan, keberanian dan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” ujar Anam.
Anam mencontohkan sejumlah peristiwa penting pada masa Rasulullah SAW yang dapat menjadi bahan pembelajaran kepemimpinan.
Salah satunya ketika Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Menurut Anam, hijrah tidak semata-mata merupakan perpindahan tempat, tetapi menjadi gambaran bagaimana seorang pemimpin mampu membaca situasi, menyusun strategi, membangun jaringan sosial dan mempersiapkan masa depan umat dengan penuh perhitungan.
Setelah berada di Madinah, Rasulullah SAW juga menunjukkan kepemimpinan melalui pembangunan masyarakat yang berlandaskan persaudaraan dan kebersamaan. Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Ansar, menurut Anam, menjadi contoh bagaimana seorang pemimpin mampu meredam sekat sosial dan membangun kekuatan masyarakat melalui solidaritas.
“Ini sangat relevan dengan kondisi sekarang. Seorang pemimpin harus mampu menyatukan, bukan justru memperlebar perbedaan. Kepemimpinan Rasulullah mengajarkan bahwa kekuatan masyarakat dibangun dari persaudaraan, kepercayaan dan rasa saling menghormati,” jelasnya.
Anam juga menyinggung Piagam Madinah sebagai salah satu contoh penting dalam sejarah kepemimpinan Rasulullah SAW. Menurutnya, upaya membangun tata kehidupan masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok menunjukkan pentingnya kesepakatan, aturan bersama, penghormatan terhadap perbedaan dan tanggung jawab menjaga kehidupan masyarakat.
Keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW, lanjut Anam, juga dapat dilihat ketika menghadapi berbagai konflik dan tekanan.
Dalam sejumlah peristiwa peperangan dan ketegangan politik pada masa itu, Rasulullah SAW tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga mempertimbangkan strategi, kondisi masyarakat dan dampak keputusan terhadap masa depan umat.
Salah satu contoh yang menurutnya penting dipelajari adalah Perjanjian Hudaibiyah. Keputusan Rasulullah SAW menerima kesepakatan yang pada saat itu tampak berat bagi sebagian sahabat menunjukkan bahwa seorang pemimpin terkadang harus mampu melihat kepentingan jangka panjang, tidak sekadar mengejar kemenangan sesaat.
“Pemimpin tidak boleh hanya berpikir tentang bagaimana dirinya terlihat menang hari ini. Kepemimpinan Rasulullah mengajarkan pentingnya membaca masa depan, mengendalikan emosi dan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang lebih luas demi kemaslahatan,” tutur Anam.
Menurut Anam, keberhasilan kepemimpinan Rasulullah SAW juga tidak dapat dilepaskan dari akhlak dan keteladanan pribadi.
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang amanah, jujur, sabar, rendah hati dan dekat dengan masyarakat. Karena itu, kepemimpinan beliau tidak hanya dibangun melalui perintah, tetapi melalui contoh nyata yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh orang-orang di sekitarnya.
“Pemimpin yang baik bukan hanya pandai memberikan instruksi. Ia harus mampu memberikan contoh. Ketika pemimpinnya jujur, amanah, mau mendengar dan hadir di tengah masyarakat, maka kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya,” kata Anam.
Ia menilai nilai keteladanan tersebut sangat relevan diterapkan dalam berbagai lingkungan, mulai dari pemerintahan, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga lingkungan keluarga.
Bagi Anam, Maulid Nabi menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap kualitas kepemimpinan di era modern. Perkembangan teknologi, media sosial dan derasnya arus informasi menuntut pemimpin memiliki kecerdasan sekaligus integritas agar kewenangan yang dimiliki benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat.
“Di era sekarang, seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan dalam kejujuran, transparansi, keadilan dan pelayanan. Jangan sampai kekuasaan hanya dipahami sebagai kewenangan untuk memerintah, tetapi harus dimaknai sebagai amanah untuk melayani,” tegasnya.
Anam berharap semangat Maulid Nabi Muhammad SAW dapat melahirkan kesadaran bersama bahwa kepemimpinan yang sukses bukan semata-mata diukur dari jabatan atau kekuasaan, melainkan dari seberapa besar seorang pemimpin mampu menghadirkan kemaslahatan, menjaga kepercayaan dan meninggalkan keteladanan bagi generasi setelahnya.
“Kalau nilai-nilai kepemimpinan Rasulullah SAW benar-benar kita hidupkan, maka Maulid Nabi tidak hanya menjadi perayaan tahunan. Ia akan menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperbaiki cara kita memimpin dan memperbaiki cara kita melayani masyarakat,” pungkas Anam.
#KLIKKU.ID BANGKALAN
