SURABAYA | klikku.id – Pembiayaan syariah dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang besar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bank Indonesia (BI) Jawa Timur mendorong pemanfaatannya untuk memperkuat sektor riil sekaligus membangun ekosistem ekonomi halal yang lebih terintegrasi.
Hal itu disampaikan dalam Business Coaching Pembiayaan FESyar Regional Jawa 2026 di Grand City Surabaya, Jumat (25/9/2026).
Deputi Direktur KPwBI Jatim Muchammad Barik Bathaluddin mengatakan, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah bertumpu pada tiga hal. Yakni penguatan rantai nilai halal, optimalisasi pembiayaan syariah, serta perluasan literasi dan inklusi keuangan syariah.
Menurut Barik, peluang tersebut semakin penting ketika perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian. Meski demikian, ekonomi Indonesia dan Jawa masih mampu tumbuh dengan inflasi yang terjaga.
“Di tengah ketidakpastian global, perekonomian Indonesia dan Jawa masih bisa tumbuh dan bertahan dengan tingkat inflasi yang terjaga. Sejalan dengan itu, kinerja sektor ekonomi dan keuangan syariah nasional juga mampu menjaga tren pemulihan yang positif,” jelasnya.
Berdasarkan Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia 2025, pertumbuhan halal value chain mencapai 6,21 persen, meningkat dari 4 persen pada 2024. Pertumbuhan antara lain ditopang pertanian, makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim serta fesyen muslim.
Pembiayaan pada sejumlah sektor tersebut juga dinilai tetap signifikan dalam menopang aktivitas ekonomi dengan profil risiko yang relatif terjaga.
Dari sisi industri, total aset perbankan syariah pada 2025 mencapai sekitar Rp1.067 triliun, tumbuh 8,9 persen secara tahunan. Pembiayaan mencapai Rp705 triliun atau tumbuh 9,6 persen, sedangkan dana pihak ketiga mencapai Rp829 triliun atau meningkat 10,1 persen.
Namun, pertumbuhan industri tersebut masih berhadapan dengan tantangan literasi dan inklusi.
Barik menyebut hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan syariah berada di level 4,3 persen. Sementara indeks inklusi tercatat 13,2 persen.
“Angka tersebut menunjukkan masih adanya ruang yang cukup besar untuk memperluas pemahaman sekaligus akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah,” katanya.
Karena itu, BI terus memperkuat sinergi dengan OJK dan industri perbankan. Dukungan diarahkan pada pengembangan sektor unggulan halal, keuangan sosial syariah serta kebijakan makroprudensial untuk mendorong pembiayaan perbankan syariah.
Barik mengatakan penguatan tersebut penting agar pertumbuhan industri tidak hanya tercermin dari angka aset dan pembiayaan, tetapi juga semakin terhubung dengan sektor riil dan memberi akses lebih luas kepada masyarakat. AM@n
