Nasional Opini Politik

Rabu, 30 September 2026 - 22:26 WIB

12 jam yang lalu

logo

DOK Gambar Foto iat KLIKKU.ID ANAM.

DOK Gambar Foto iat KLIKKU.ID ANAM.

JAM-HMI dan AMAS Soroti Kedekatan Willy Aditya dengan Mahasiswa dan Dunia Literasi

JAKARTA | KLIKKU.ID — Kedekatan dengan kalangan mahasiswa dan konsistensi terhadap dunia literasi dinilai menjadi salah satu karakter yang melekat pada sosok Willy Aditya, Anggota DPR-RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Madura sekaligus Ketua Komisi XIII DPR-RI.

Pandangan tersebut disampaikan Koordinator Pimpinan Nasional Jaringan Alumni Muda HMI (JAM-HMI), Abdullah Amas. Menurutnya, Willy Aditya merupakan figur yang sejak sebelum menjadi anggota parlemen telah memiliki kedekatan dengan dunia gerakan mahasiswa serta aktivitas literasi.

Amas mengisahkan pengalamannya ketika Partai NasDem masih berada pada fase awal berdirinya. Saat itu, dirinya bersama sejumlah rekan menghubungi Willy Aditya melalui pesan singkat untuk meminta kesempatan bertemu.

“Dulu sekali saat awal NasDem berdiri kita SMS beliau, minta ketemu, dikasih. Saat itu beliau belum jadi anggota DPR dan sekarang pun setelah jadi tak berubah,” ujar Amas.

Menurut Amas, pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa perubahan posisi dan tanggung jawab politik tidak serta-merta mengubah pola komunikasi Willy dengan kalangan mahasiswa maupun komunitas yang bergerak di bidang literasi.

Ia menilai kecintaan terhadap literasi dan kebiasaan membersamai kaum mahasiswa dalam ruang-ruang intelektual bukan sekadar aktivitas sesaat, melainkan telah menjadi bagian dari keseharian Willy Aditya.

Dalam pandangan Amas, konsistensi tersebut pula yang turut membentuk posisi Willy Aditya di lingkungan politik Partai NasDem. Ia bahkan menyebut Willy sebagai salah satu figur yang memiliki kedekatan ideologis dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, terutama dalam melihat politik sebagai ruang pertarungan gagasan.

“Di tangannya, politik dikembalikan pada marwah aslinya: sebagai medan perjuangan gagasan, laboratorium peradaban, dan rumah bagi mereka yang percaya bahwa masa depan bangsa hanya bisa dibangun di atas fondasi literasi yang kokoh,” ungkapnya.

Bagi JAM-HMI, keterlibatan politisi dalam dunia literasi menjadi penting karena ruang politik tidak hanya berbicara mengenai kekuasaan dan kebijakan, tetapi juga mengenai pembentukan gagasan serta kualitas sumber daya manusia.

Dalam konteks tersebut, kedekatan seorang legislator dengan mahasiswa dan komunitas literasi dipandang dapat membuka ruang dialog yang lebih luas antara dunia politik, intelektual muda dan masyarakat.

Pandangan senada disampaikan Ketua Umum DPP Aliansi Madura Asli (AMAS), Kiki Mufida. Ia menilai perhatian Willy Aditya terhadap dunia literasi juga terlihat dalam berbagai aktivitasnya di daerah pemilihannya.

Menurut Kiki, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan fisik. Penguatan kemampuan berpikir, tradisi membaca, diskusi serta pengembangan kapasitas generasi muda juga menjadi bagian penting dalam membangun masa depan masyarakat.

“Kita memerlukan orang yang lahir batin kokoh di dunia yang penuh perhatian dalam membangun tenaga batin dan kekuatan otak atau pembangunan akal-akal raksasa kaum muda,” tegas Kiki.

Pernyataan JAM-HMI dan AMAS tersebut sekaligus menempatkan literasi sebagai salah satu isu penting dalam melihat relasi antara politik dan pembangunan generasi muda.

Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, mahasiswa dan anak muda tidak hanya membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi, tetapi juga ruang untuk mengembangkan kapasitas intelektual dan memperdebatkan gagasan secara terbuka.

Dalam perspektif tersebut, sosok politisi yang bersedia hadir di ruang-ruang diskusi dan literasi dinilai memiliki peluang lebih besar untuk membangun komunikasi dua arah dengan generasi muda.

Namun, pandangan mengenai karakter dan kontribusi Willy Aditya tersebut merupakan penilaian dari JAM-HMI dan AMAS. Penilaian tersebut menjadi bagian dari dinamika opini publik terhadap kiprah seorang legislator, khususnya dalam membangun hubungan dengan mahasiswa, komunitas literasi dan masyarakat di daerah pemilihannya.

Bagi Madura, ruang politik yang terhubung dengan tradisi intelektual dan literasi pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang hadir di tengah masyarakat, tetapi juga bagaimana gagasan yang lahir dari ruang-ruang tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan kerja nyata yang menyentuh kepentingan publik.

#KLIKKU.ID ANAM

26

Baca Lainnya