Pendidikan Prestasi

Jumat, 2 Oktober 2026 - 14:38 WIB

18 jam yang lalu

logo

Ciptakan Rambu Evakuasi Tsunami Berbasis Sensor, Mahasiswa UNUSA Raih Dana PKM

SURABAYA | klikku.id – Lima mahasiswa Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mengembangkan rambu evakuasi tsunami berbasis sensor.

Inovasi bernama SafeLight Tsunami Route tersebut dirancang untuk menyampaikan informasi kondisi bahaya melalui indikator lampu, sirine, dan sistem pemantauan secara real-time.

Prototipe ini berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Tim pengembang terdiri atas Rofiq Arroyan, Nadea Putri Wahyuni, Cicilia Febriana Mayangsari, Rachmalia Eka Putri, dan Angga Adi Nugroho, dengan dosen pembimbing Merry Sunaryo.

Berbeda dengan rambu evakuasi konvensional yang memberikan petunjuk arah secara statis, SafeLight dirancang untuk menampilkan indikator sesuai data yang diterima sensor.

Perangkat ini mengintegrasikan dua subsistem, yakni darat dan laut. Pada bagian darat, mikrokontroler ESP32 dan sensor getaran MPU6050 digunakan untuk membaca getaran. Sementara itu, subsistem laut menggunakan sensor pelampung untuk memantau perubahan muka air laut.

Data dari kedua subsistem diproses untuk menentukan indikator yang ditampilkan. Lampu hijau menandakan kondisi aman, sedangkan lampu kuning disertai sirine menunjukkan kondisi gempa atau kewaspadaan.

Adapun lampu merah dengan sirine berintensitas lebih tinggi menjadi indikator potensi tsunami dan perlunya mengikuti prosedur evakuasi.

Sistem monitoring juga memungkinkan data sensor dikirim melalui modem MiFi. Informasi tingkat guncangan ditampilkan menggunakan skala Modified Mercalli Intensity (MMI).

Untuk mendukung operasional, prototipe memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi. Daya disimpan dalam baterai melalui solar charge controller, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing komponen elektronik.

Tim telah melakukan perakitan dan pengujian prototipe. Hasil evaluasi digunakan untuk menyempurnakan rangkaian elektronik, konfigurasi lampu LED RGB, pemrograman sistem monitoring, serta penyajian informasi tingkat guncangan.

“Melalui pendekatan berbasis teknologi, kami tidak hanya mengembangkan perangkat, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi yang dapat mendukung penyampaian informasi dalam situasi darurat,” kata tim pengembang.

Mereka berharap SafeLight dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai perangkat pendukung mitigasi bencana, terutama bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir.

Meski demikian, prototipe tersebut masih memerlukan pengembangan dan validasi lebih lanjut sebelum dapat digunakan sebagai perangkat operasional.

Sistem ini juga perlu terintegrasi dengan prosedur evakuasi dan peringatan dini dari otoritas berwenang. AM@n


 

13

Baca Lainnya