Ekonomi Bisnis Pemerintahan

Kamis, 24 Februari 2022 - 11:57 WIB

4 tahun yang lalu

logo

Neraca Perdagangan Jatim – Sulawesi Tengah Tahun 2021 Surplus Rp 1,98 T Untuk Jatim

Surabaya | klikku.net – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung gelaran Misi Dagang dan Investasi antara Jawa Timur dan Sulawesi Tengah.

Kegiatan tersebut bertema Meningkatkan Jejaring Konektivitas antara Pemprov Jatim dan Pemprov Sulawesi Tengah, di Ballroom Hotel Best Western Plus di Coco, Palu, Rabu (23/02/2022).

Dalam acara tersebut Gubernur Khofifah membowa 40 pelaku usaha asal Jatim, guna menyuguhkan hasil usahanya dalam gelar misi dagang kali ini.

Sebagai contoh Tenun Ikat ATBM Telaga Sari, Aneka Produk Kulit, Keramik dan Granit Tile, Batik Gedog Tuban, Batik  Canting Wira, Makanan (creaker), produk-produk hortikultura, pupuk organik,  cerutu, batik ciprat, olahan Rambak Tulungagung, dan masih banyak lagi.

Sementara dari Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), menghadirkan 120 pelaku usaha. Diantaranya coklat Sulteng, Salhan Bawang Goreng, Kain Tenun Donggala dan Kopi Sulteng.

Selain itu, Sulteng juga memajang roduk-produk olahan Dinas Kehutanan, seperti Damar, Gum Rosin dan Terpentin, Teh Kelor, Minyak Nilam. Produk olahan Dinas Perikanan dan Kelautan seperti abon ikan marlin. Serta produk UMKM binaan Koperasi Relawan Merah Putih.

Mengamati kultur budaya antara Jatim dan Sulteng yang cenderung serupa, Khofifah mengatakan bahwa dirinya memiliki komitmen yang sama dengan Gubernur Sulawesi Tengah Rusdi Mastura, untuk mendorong  kabupaten/kota menuju kemandirian fiskal.

“Kemandirian tersebut, bisa dilihat melalui perbandingan antara PAD dengan total penerimaan daerah. Oleh karenanya, penting untuk melakukan pembayaran pajak bagi perusahaan cabang, di daerah cabang tersebut berdiri,” ujarnya.

Khofifah juga mengungkapkan, bahwa kekuatan perdagangan antara Jatim dengan Sulteng memiliki konektivitas dan sinergitas yang potensial. Bahkan Partnership transaksi dagang Jatim-Sulteng sangat produktif.

“Berdasarkan Data BPS 2021, produk Jatim diantara seluruh provinsi di Indonesia, adalah produk yang diminati pelaku usaha, pedagang, masyarakat Sulawesi Tengah  paling tinggi, yaitu sebesar  Rp 4,3 triliun. Sedangkan penjualan Sulawesi Tengah terhadap Jatim adalah sebesar Rp. 2,32 triliun. Sehingga neraca perdagangan Jatim dengan Sulteng surplus 1,98 Triliun untuk Jatim,” tambahnya.

“Penting bagi Provinsi Jatim dan Sulteng untuk terus membangun sinergitas, diikuti dengan MoU antar OPD di kedua provinsi. Agar kami bisa saling membangun penguatan antar provinsi,” tutur Khofifah.

Dengan berbagai penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) yang dilakukan dalam Misi Dagang kali ini, Khofifah memberikan referensi bagi Sulteng terkait pengolahan kehutanan sosial yang ada di Jatim. Seperti yang diketahui Integrated Area Developement (IAD) hanya ada 2 di Indonesia. Salah satunya ada di Sendura –  Lumajang, Jatim.

“Oleh karena itu, Pak Gubernur Sulteng  dapat mengirim  tim untuk studi banding ke Jatim. Agar bisa  saling belajar mengolah lahan perhutanan sosial. Karena di Jatim, perhutanan sosial dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat. Dan produktivitasnya cukup tinggi,” jelas Khofifah.

Terkait pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Khofifah juga menyampaikan bahwa BPSDM Prov Jatim merupakan salah satu yang terpilih menjadi Coorporate University (Corpu) di Indonesia. Khofifah menyampaikan bahwa pengembamgan SDM di Sulteng, bisa dilakukan dengan mengakses secara daring.

“Jadi  untuk pembelajaran tertentu tidak perlu mengirim orang ke Jatim. Cukup diikuti secara daring,” ujarnya

Misi dagang kali ini juga diikuti oleh berbagai organisasi pelaku usaha, seperti KADIN, HIPMI dan IWAPI Jatim. Yang melakukan penandatanganan MoU dengan KADIN, HIPMI dan IWAPI Sulteng.

Khofifah memastikan bahwa seluruh organisasi strategis memberikan penguatan. Harapannya kedua belah pihak secara resiprokal saling menguntungkan.

“Artinya dari seluruh MoU dan Perjanjian kerja sama  yang dilakukan hari ini. Diharapkan  saling menguatkan dan saling menguntungkan kedua belah pihak,” ungkapnya.

“Seperti contohnya banyak raw material dari Sulteng yang dikirim ke Jatim untuk dilakukan pengolahan. Karena industri manufaktur di Jatim sangat advance. Setelah itu di jual kembali ke Sulteng,” tambahnya

Khofifah melanjutkan, bahwa kekuatan perekonomian Jatim ada pada perdagangan antar Provinsi dan antar Pulau. Di tahun 2021 lalu, Jatim menjadi Provinsi tertinggi dalam perdagangan antar provinsi selama 10 tahun terakhir, yakni sebesar Rp. 243 triliun.

“Inilah pentingnya untuk menemu kenali apa yang menjadi kekuatan masing-masing provinsi, beserta upaya penguatannya menjadi penting,” ujarnya.

Untuk komoditas Jatim yang diperdagangkan ke Sulteng adalah kendaraan bermotor, semen, bahan pokok, makanan ringan, barang proyek, tumbuhan, kerajinan, tembakau, cerutu, rokok, biji nikel, air dalam botol tidak mengandung pemanis, selai, jeli buah, pasta dari buah.

Sedangkan komoditas utama milik Sulteng yang diperdagangkan ke Jatim adalah biji nikel, cengkeh, kakao, tepung terigu, kacang kedele, Virgin Coconut Oil (VCO), tembakau, karet, kelapa, hasil laut, batu kecil, gravel (batu pecah).

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah Rusdi Mastura mengatakan, kehadiran Gubernur Khofifah di Sulteng diharapkan mampu memotivasi bagi penguatan SDM maupun perekonomian di provinsi Sulawesi Tengah.

Rusdi menganalogikan Jawa gambaran ekonomi saat ini, Kalimantan sebentar lagi, dan Sulawesi akan datang. Oleh karena itu, Rusdi berkeinginan Jatim harus menjadi hub perekonomian, menuju Indonesia Bagian Timur.

“Surabaya yang kami temui ketika keluar dari Palu. Saya yakin, Jatim adalah pintu gerbang perekonomian bagi Indonesia Timur. Saya kenal betul Surabaya dan Jawa Timur ini,” katanya

Dalam kesempatan tersebut juga turut dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemprov Jatim dan Pemprov Sulteng yang dilakukan oleh Gubernur Khofifah bersama dengan Gubernur Sulawesi Tengah Rusdi Mastura. Soen/Roji


Editor: Joe Mesti

112

Baca Lainnya