Surabaya | klikku.net – Rektor Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Siti Marwiya, membuka Dialog Kebangsaan bertajuk “Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa”, yang digelar Pusat Studi Pancasila Konstitusi dan Peradaban Indonesia (Puspakopi) Unitomo, bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Gerakan Peradaban Indonesia (GPI) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), di gedung negara Grahadi Surabaya, Sabtu (14/1).
Dalam sambutannya, Rektor yang biasa disapa Iyat ini mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, hingga kegiatan ini bisa terselenggara.
“Benar-benar bangga, kampus Kebangsaan dan Kerakyatan Unitomo bisa mendukung salah satu rangkaian sumpah peradaban, yang akan diselenggarakan ke depannya. Harapannya, kegiatan ini bisa menginisiasi kalangan akademisi lain, untuk selalu konsen dengan peradaban Indonesia. Serta mampu menjadi booster nasionalisme, ” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Khofifah menyampaikan terima kasih atas sinergi yang harmoni, dari kalangan akademisi, budayawan, hingga tokoh agama. Serta dipilihnya Grahadi, sebagai sarana membangun dialog kebangsaan tentang bagaimana melihat Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa.
“Dengan bersatu, saya rasa seluruh sektor akan tergerak dengan produktif dan lebih signifikan sekali,” ujar Khofifah.
Di tempat yang sama, Menkopolhukam Mahfud MD menegaskan, Indonesia harus kembali ke Pancasila sebagai pemersatu bangsa.
“Jangan sampai warga saling mencari selamat sendiri-sendiri, berdasar ikatan primordial masing-masing dan ingin saling mendominasi. Itu berbahaya sekali. Maka dari itulah perlunya kita bicara mengingatkan Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa,” tegasnya.

Sebagai salah satu narasumber, Gubernur D.I.Y Sri Sultan Hamengkubuwono X menegaskan, dalam Pancasila terkandung Bhinneka Tunggal Ika yang dijamin oleh konstitusi.
“Untuk itu, ketika ada masalah, perlu diingat bahwa sesama anak bangsa, harus saling menghargai karena kemajemukan itu sudah luluh dalam Kebhinekaan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, bahwa tantangan yang akan dihadapi bangsa Indonesia di masa depan sangat luar biasa. Sehingga, diperlukan pemimpin sekaligus generasi di masa depan, yang bisa menatap tegas ke depan, tanpa menoleh ke belakang.
“Harapan saya, jangan hanya mengatakan Bhinneka Tunggal Ika adalah lambang negara. Tetapi harus kita aplikasikan menjadi strategi integrasi bangsa. Itulah pilihan kita untuk berbangsa dan bernegara,” tegasnya.
Ditemui di sela kegiatan, Ketua Puspakopi Unitomo Vieta Imelda Cornelis berharap, dialog kebangsaan ini bisa menjadi booster nasionalisme.
“Ke depan, kita bisa konsisten untuk konsen dan peduli soal toleransi, peradaban, dan nasionalisme bangsa ini. Dan yang paling penting, tokoh-tokoh yang hadir sangat kompeten dan memiliki peranan penting di Indonesia,” pungkasnya. @Nto tze
