Surabaya | klikku.net – Penanganan Kanker Payudara yang sesuai dengan Standar Terapi Internasional, terbukti meningkatkan angka kesembuhan pada pasien kanker payudara.
Sebagai salah satu Breast Center terbesar di Indonesia, Rumah Sakit Onkologi Surabaya (RSOS) berkomitmen menjalin kerjasama dengan pusat penanganan kanker nasional dan internasional.
Serta melakukan benchmarking berkala, menjalin networking dengan Breast Center terbaik dunia, dan berbagi ilmu dengan sejawat lain.
Hal ini bertujuan menurunkan angka kesakitan dan angka kematian, akibat kanker payudara. Serta meningkatkan kualitas penanganan kanker payudara di Indonesia.
Untuk mewujudkan hal itu, Rumah Sakit Onkologi Surabaya dan Münster University Germany, gelar seminar Indonesia-germany Sharing Experience in Breast Cancer Management ke – 5, di Surabaya, Sabtu (25/11).
Kegiatan Indonesia – Germany Sharing Experience sendiri, telah diselenggarakan oleh Rumah Sakit Onkologi Surabaya sejak tahun 2012.
Bersama dengan dr. Med. Joke Tio, seorang Breast Surgeon dari Breast Center Münster, Jerman. Tema acara kali ini adalah “Current Advances in Breast Cancer Management: Indonesia-German Sharing Experience”.
Acara ini dihadiri sekira 400 peserta dari berbagai multidisiplin ilmu. Untuk duduk bersama, berdiskusi, dan meningkatkan pengetahuan tentang perkembangan terkini perawatan pasien kanker payudara.
Kegiatan ini dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas dokter dan perawat. Selain itu, kegiatan ilmiah ini juga menggandeng beberapa organisasi profesi. Seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Surabaya, International College of Surgeon (ICS) Indonesia Section, Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) Cabang Surabaya Raya, serta Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Himpunan Perawat Onkologi Indonesia (Himponi).
Kelas Dokter dimulai dengan kata sambutan dari Ketua Panitia dr. Jacobus Octovianus. SpB., MCh., FICS,.
“Kami bersyukur, bersama dr. Joke Tio, dapat menyamakan standar RSOS dengan rumah sakit di Jerman. Salah satunya, dengan saling mengunjungi, dan mengundang dokter-dokter ahli bedah patologi dan radiologi. Untuk memperkaya wawasan tentang penanganan kanker payudara terkini,” ujarnya.
“Sebab, kewajiban seorang dokter dalam melakukan pelayanan kesehatan, adalah meningkatkan mutu pelayanan sesuai standar terbaru dan terbaik,” pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Founder RSOS dr. Ario Djatmiko, SpB, Subsp.Onk (K)., menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan saat ini butuh kolaborasi dan kerjasama.
“Saat ini, teknologi kedokteran telah berkembang pesat. Untuk itu, kami perlu melakukan berbagai langkah, untuk memberikan yang terbaik bagi pasien. Diantaranya adalah pendekatan team, mengikuti International Standard Procedure dan Benchmarking,” ucapnya.
“Benchmarking merupakan cara untuk memastikan, bahwa penanganan pasien di RSOS telah menyamai standar pelayanan medik yang terbaik di dunia. Untuk itu, secara berkala RSOS secara berkala mengirim dokter-dokter ahlinya ke pusat penangan kanker terbaik di dunia. Dan mengundang dokter ahli kanker dari negara lain, untuk berbagi ilmu di RSOS,” pungkasnya.
Acara ini dihadiri sejumlah dokter spesialis yang kompeten di bidangnya, sebagai pembicara. Diantaranya, Dr. Dwirani Rosmala Pratiwi, Sp.B, FICS – Breast Surgeon RSOS, Dr. Peter Johannes Manoppo, Sp.B, FINACS.,FICS.,MBIO, bioethicist – Ethic Lecture FICS, Dr. Jacobus Octovianus, Sp.B, Mch, FICS – Breast Surgeon RSOS, Dr. Lies Mardiyana, Sp.Rad – Radiologist RSOS, Dr. Dyah Fauzijah, Sp.PA – Pathologist RSOS, Dr. Fransiscus Arifin, MSi, SpB, SubSp.BD (K), DMAS, FInaCS, FICS, dan Dr.med. Joke Tio – Breast Surgeon from Universitatsklinikum Münster, Germany
Sementara itu, kelas perawat dihadiri oleh 150 perawat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Dalam sambutannya, Kepala Departemen Keperawatan Rumah Sakit Onkologi Surabaya Niken Zuraida, S.Kep., Ns., menyatakan, bahwa perawat memiliki peran yang penting dalam penanganan kanker payudara di rumah sakit.
“Perawat menjadi pendamping pasien saat menjalani pemeriksaan dan terapi. Melakukan perawatan yang diperlukan saat terapi. Serta melakukan follow up yang diperlukan. Sehingga pasien dan keluarganya mendapatkan terapi yang tepat sesuai yang disarankan oleh dokter penanggung jawabnya,” ujarnya.
