Pendidikan

Selasa, 19 Desember 2023 - 15:53 WIB

3 tahun yang lalu

logo

Perlunya Etika Penggunaan Kecerdasan Buatan di Dunia Pendidikan

Surabaya | klikku.net – Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) gelar seminar nasional berema Pro dan Kontra Pelaksanaan Tri Dharma dengan Kecerdasan Buatan, di Aula Candradimuka, GKB Lt 9, Kampus Merr-C, Unair, Selasa (19/12).

Seminar ini, didasari pesatnya perkembangan teknologi, turut menerbitkan penemuan baru, berupa Artifical Intelligence (AI) dengan kebermanfaatan yang turut dirasakan dalam aspek pendidikan di Indonesia.

Sayangnya, meski memiliki manfaat, tidak jarang pula ditemukan penyalahgunaan AI di kalangan akademisi, baik oleh dosen maupun mahasiswa.

Menurut Dekan FTMM Prof Dr Dwi Setyawan SSi MSi Apt, teknologi tanpa memperhatikan etika dan kebijakan penggunanya, bagaikan pisau bermata dua.

“Tetap harus ada batasan etik dan kebijakan penggunaan AI di Perguruan Tinggi. Seperti yang kita ketahui, teknologi itu seperti pisau bermata dua. Di satu sisi memiliki manfaat. Tetapi di sisi lain, bisa menimbulkan bahaya atau merugikan buat kita,” ujarnya.

Dia menambahkan, ketika menyinggung soal etika, hal yang dibicarakan ialah seputar tingkah laku maupun perbuatan seseorang yang bergantung pada moral.

“Moral yang baik pada diri seseorang, perlu didukung oleh akal dengan objektivitas, untuk dapat menentukan benar atau salahnya suatu tindakan. Apalagi, memang agak susah menentukan, apakah ini hasil olah mesin AI, atau hasil olah keterampilan manusia,” tuturnya.

Prof Dwi menegaskan, untuk mengetahui mana nilai yang benar dan salah, perlu adanya suatu aturan atau kebijakan, sebagai instrumen untuk tujuan yang benar.

“Karena itu, seluruh civitas UNAIR dapat berpegang pada motto Excellent With Morality, yang dijabarkan berupa Humble, Excellent, Brave, Agile, dan Trancendent (HEBAT),” ungkapnya.

“Dimana motto ini tidak hanya menuntut para civitas Unair untuk menjadi sosok yang cerdas. Namun tetap wajib mengindahkan moral-moral yang ada. Karena moral inilah yang dapat menjadikan segala kemajuan teknologi menjadi baik dan penuh manfaat,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jendral Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Ainun Na’im menyebut, Chat GPT adalah salah satu teknologi yang berkembang pesat saat ini.

“Indonesia merupakan penggunaan terbesar ketiga di dunia, setelah AS & India. Chat GPT sebenarnya membawa manfaat besar untuk perkembangan dunia pendidikan. Namun, juga ada mudharatnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, misal dalam hal pembuatan tugas atau proposal dan lainnya. Dimana mahasiswa bisa mendapat banyak refrensi, yang nantinya bisa dijadikan acuan untuk membuat tugasnya. Namun, juga ada yang tinggal copas. Ini yang tidak boleh.

“Manfaat besar. Mudharat juga ada. Kita harapkan mahasiswa bisa memahami manfaat dan mudharatnya dari Chat GPT,” pungkasnya.


 

323

Baca Lainnya