Politik

Selasa, 27 Agustus 2024 - 13:52 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Amas ATUM Institute Terpukau Ringkasan tulisan Rizky Tamba Berjudul : Bang Dasco Yang Saya Kenal

Jakarta | klikku.net — Saya lupa pastinya, sekitar tahun 2002, saya mulai kenal Bang Dasco dan bagaimana awalnya hingga kami dapat bertemu. Kami terkadang nongkrong berdua, bahkan pernah beliau mengajak saya nonton film Bollywood (India) yang mungkin kegemarannya saat itu. Bang Dasco tetap ingat kebiasaan saya membawa air mineral botol besar hingga saat ini.

Di tahun 2004 pernah kami bersama Pendeta Nathan Setiabudi (mantan Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/PGI) serta para aktivis dan tokoh agama membicarakan suksesi pemerintahan dan kami sepakat agar Gus Solah (KH. Salahuddin Wahid) dapat maju menjadi cawapres waktu itu. Bersama Bang Dasco, kami pergi membujuk Gus Solah agar mau menjadi cawapres untuk Pak Wiranto.

Sebenarnya saya adalah bagian kecil dari aktivis cum politisi yang tak senang tampil di media massa dan media sosial, pun tak gemar membuat tulisan puja-puji dan atau memamerkan kedekatan dengan para tokoh nasional karena tak mau dianggap menjilat dan cari muka. Apalagi mengkapitalisasi menjadi keuntungan pribadi, yang bisa jadi dianggap naif bagi banyak orang.

Saya lebih senang bekerja dalam keheningan dan menjauh dari keramaian seremonial hingar bingar pentas politik. Baru belakangan ini saja saya mulai sering membuat postingan di media sosial dan terkadang menyebarkan pernyataan di media massa, untuk mengkampanyekan gagasan serta berkomunikasi dengan jejaring aktivis dan politisi.

Mungkin ini jadi salah satu latar yang membuat ada persamaan gaya kerja dengan senior saya yang bernama lengkap Sufmi Dasco Ahmad tersebut, yang lebih senang di belakang layar dan sulit diwawancarai oleh media massa (bahkan postingan akun media sosialnya juga tak di-maintain rutin seperti gaya kekinian para politisi papan atas).

Hal yang langka bila tetiba Bang Dasco posting foto dan kegiatannya, apalagi sampai muncul komentarnya di media massa, yang sangat menyemangati dan mengobati rasa rindu jejaringnya.

Kami terkadang bersama, tetapi pernah bertahun-tahun tak bertemu. Walau kerapkali rasa kangen itu muncul dan di beberapa momentum pasti kami bertemu lagi.

Pernah saya diundang Bang Dasco saat beliau membuka kantor hukumnya (kalau tak salah ingat di daerah Kramat Raya), beberapa tahun lalu. Juga beberapa kali diminta membereskan beberapa pekerjaan, tapi selebihnya saya berkelana mencari pengalaman, memperluas jaringan sambil menyelami kerasnya kehidupan di luar dunia politik.

Bang Dasco yang saya kenal dahulu dan sekarang tak banyak berubah gayanya. Perbedaannya adalah status anggota DPR RI dan jabatan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra yang kini melekat di Bang Dasco.

Dalam hal keseharian, beliau tetap seorang senior yang peduli dan sayang dengan para adik yuniornya, walau yang berbeda organisasi dan kepentingan politik. Tanpa pamrih.

Saat saya pernah menyepi dan jauh di Lampung, saya kerap mendapatkan kabar positif bahwa Bang Dasco sehat selalu dan senantiasa menjaga persahabatan dengan banyak aktivis dan politisi yang merupakan sahabat-sahabat lama saya. Ini hal menyenangkan bagi saya, karena biasanya seorang tokoh ketika semakin hebat, biasanya lebih senang bergaul dengan para ‘selebritis politik’ dan cenderung melupakan teman-teman lamanya.

Bang Dasco bukan tipe orang yang mengekang, mengatur-atur teman dan yuniornya, terlebih yang pernah merasakan kebaikan hatinya. Beliau sepertinya suka dengan orang yang mampu bergerak cepat dan mandiri, juga senang dengan orang yang tegas dalam prinsip dan luwes dalam pergaulan. Jarang saya dengar beliau bermusuhan, berkata negatif atau benci dengan seseorang, sepertinya dari Sabang sampai Merauke selalu ada mereka yang merasa menjadi bagian dari ‘Pasukan Komandan SDC’, inisial favorit baginya.

Bang Dasco yang saya kenal, orangnya tegas dan teliti. Cenderung perfectionist, dan tak suka bila ada yang menyerah di awal mendapatkan sebuah tugas.

Baru tahun 2017 akhirnya saya berada di gerbong yang sama yakni di Partai Gerindra, walau 2008-2009 saya pernah nongkrong di Brawijaya dan Bidakara, hingga ikut deklarasi akbar di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan.

Konsistensi seruan kebangsaan Pak PS08, juga keberadaan Bang Dasco dan Bang Habiburokhman di Partai Gerindra yang membuat saya kepincut jatuh cinta melanjutkan perjuangan kerakyatan dengan menjadi kader aktif sebuah partai politik.

Saya kembali ke dunia politik Jakarta dengan merajut ulang berbagai jaringan serta sowan silaturahim ke para sahabat lama dan para senior selama setahun lebih sejak 2017 awal.

Tetiba, Agustus 2018 saya mendapat telepon dari Bang Dasco untuk memperkuat barisan Gerakan Nasional Prabowo Presiden (GNPP) serta mulai September 2018 diperintah menjadi Kepala Sekretariat Direktorat Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang dinahkodai oleh Bang Dasco dan Bang Habiburokhman, Caleg DPR RI Terpilih dari Partai Gerindra Dapil Jakarta Timur/ ACTA.

Awalnya saya agak khawatir, karena tahu tingkat komitmen dan dedikasi kerja standar Bang Dasco. Tetapi alhamdulillah setahun ini saya justru mendapatkan banyak pengalaman dan ilmu baru dari meningkatnya frekwensi berkomunikasi dengan beliau.

Bang Dasco ini militan garis keras Pak PS08 (inisial favorit saya untuk Ketua Umum Partai Gerindra Pak Prabowo Subianto).

Saya tak pernah bertanya, tapi yang saya tahu Bang Dasco sudah kenal Pak PS08 sejak tahun 1990-an sehingga tak mengherankan bagi saya bila masukannya sangat dipercaya Pak PS08 dan kerapkali mendapatkan tugas khusus yang bisa jadi dianggap rumit bagi orang lain.

Ini kelebihan lain dari Bang Dasco, yakni mampu menyelesaikan masalah (problem solver) tanpa melukai hati orang lain yang mungkin sedang berseteru. Bahkan akhirnya ‘lawan’ dapat menjadi sahabatnya.

 

Santai Pada Serangan Pribadi

Soal serangan pada Prof. Dasco di 2019 dia diserang tudingan miring mau jadi menteri, kala itu penulis mengenang “Biarinlah Ky, fitnah jadi pahala buat gue. Usaha dan duit gue sudah cukup, belum lagi sibuk urus partai, gak sempet lagi gue jadi menteri. Tawaran jadi menteri sudah ada tapi gue menolak, lu tau nggak jadi menteri diawasi anggota DPR, turun pangkat ah. Yang pasti kita berjuang aja bantu Pak Prabowo,” ujarnya.


Anam

162

Baca Lainnya