Nasional Pendidikan

Sabtu, 14 Desember 2024 - 05:26 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Unitomo Mengurai Konflik Carok Lewat Kearifan Lokal dalam Seminar Nasional

Bangkalan | klikku.id – Fakultas Hukum Universitas Dr. Soetomo (FH Unitomo) gelar Seminar Nasional bertema “Peran Kepolisian, Pemerintah, Tokoh Agama, dan Tokoh Masyarakat dalam Menciptakan Budaya Penyelesaian Dendam Akibat Carok Berdasarkan Nilai-Nilai Adab di Madura”.

Seminar ini dilangsungkan secara hybrid di Pendopo Agung Bangkalan, Jumat (13/12/24). Dan diikuti oleh peserta secara langsung maupun daring melalui Zoom Meeting.

Seminar ini melibatkan tokoh, baik dari kalangan akademisi, pemerintah, tokoh agama, hingga budayawan. Beberapa di antaranya adalah Rektor Unitomo, Prof. Dr. Siti Mariwiyah, SH, MH, Wakil Menteri Hukum dan HAM RI periode 2020-2024 Prof. Eddy O.S. Hiariej, Penjabat Bupati Bangkalan Prof. Dr. R.M. Arief Moelia E.M.S., Ketua PCNU sekaligus Ketua MUI Bangkalan H. Muhammad Makki Nasir, serta budayawan terkemuka, D. Zawawi Imron.

Dalam sambutan pembukaannya, Rektor Unitomo, Prof. Siti Mariwiyah, menekankan pentingnya kolaborasi untuk menciptakan perdamaian di Madura.

“Madura memiliki potensi besar untuk menjadi kawasan yang damai. Dengan memperkuat nilai-nilai agama, adab, dan sinergi berbagai pihak, konflik seperti carok dapat diminimalkan,” ujarnya.

Dia juga menyampaikan hasil penelitian Fakultas Hukum Unitomo, yang menunjukkan bahwa 75% masyarakat Madura menolak praktik carok.

Menurutnya, tokoh agama dan masyarakat memiliki peran sentral sebagai modal sosial untuk mendorong budaya perdamaian.

Wakil Menteri Hukum dan HAM RI, Prof. Eddy O.S. Hiariej, dalam paparannya menyoroti pentingnya kesadaran hukum masyarakat dalam menyelesaikan konflik berbasis dendam.

“Hukum pidana Indonesia membuka ruang untuk pendekatan berbasis kearifan lokal. Namun, dukungan masyarakat dalam menjunjung supremasi hukum tetap menjadi kunci,” jelasnya.

Sebagai simbol komitmen perdamaian, acara ini juga diwarnai dengan Deklarasi Peletakan Senjata Tajam oleh mahasiswa dan tokoh masyarakat Bangkalan. Deklarasi ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mengurangi kekerasan serta memperkuat budaya damai di Madura.

Budayawan Zawawi Imron turut memberikan pesan reflektif mengenai pentingnya memupuk harmoni. “Kearifan lokal Madura adalah kekuatan untuk memperkuat solidaritas. Jika kita kembali pada akar budaya, dendam bisa digantikan dengan cinta kasih,” katanya.

Seminar ini menjadi momentum penting untuk mendorong Madura yang harmonis. Dengan keterlibatan akademisi, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat.


@Man

376

Baca Lainnya