Pemerintahan

Selasa, 4 Februari 2025 - 13:55 WIB

1 tahun yang lalu

logo

BPS Catat; Awal Tahun 2025 Jatim Deflasi 0,54 Persen (m-t-m)

Surabaya| klikku.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Januari 2025, provinsi Jawa Timur deflas sebesar 0,54 persen (month-to-month/mtm). Salah satu faktor penyebab deflasi adalah kebijakan diskon tarif listrik hingga 50 persen bagi pelanggan rumah tangga.

Diskon tersebut mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 348.K/TL.01/MEM.L/2024 tentang memberikan potongan harga kepada pelanggan berdaya 450VA, 900VA, 1.300VA, dan 2.200VA. Kebijakan ini berlaku selama dua bulan, yakni Januari dan Februari 2025.

Dalam kebijakan tersebut, pelanggan listrik pascabayar akan mendapatkan potongan harga otomatis saat membayar tagihan bulan Januari dan Februari 2025. Sementara itu, pelanggan prabayar hanya perlu membeli setengah dari jumlah token yang biasanya dibutuhkan untuk memperoleh jumlah energi (kWh) yang sama.

Dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Jawa Timur, Kamis (04/02/2025), Kepala BPS Jatim Dr Zulkipli, M.Si menyatakan bahwa deflasi ini dipengaruhi oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, mempunyai andil negatif sebesar 1,13 persen.

“Penurunan tarif listrik pada Januari mencapai 29,93 persen, dengan kontribusi sebesar 1,18 persen terhadap total deflasi,” ungkapnya.

Selain diskon listrik, penurunan harga pada sejumlah komoditas di kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga berkontribusi terhadap deflasi. Beberapa di antaranya adalah telur ayam ras berkontribusi -2,74 persen dengan andil 0,03 persen, bawang merah -4,12% dengan andil 0,02 persen, tomat -8,66% dengan andil 0,02 persen, dan ketimun berkontribusi -24,98 persen dengan andil 0,01 persen.

Di sisi lain ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, seperti cabai rawit yang naik 81,52 persen, cabai merah naik 72,29 persen, emas perhiasan naik 2,65 persen. Kemudian bahan bakar rumah tangga naik 3,3 persen, minyak goreng naik 2,38 persen, serta bensin naik 0,48 persen.

“Kenaikan harga juga terjadi pada wortel, semangka, cumi-cumi, jagung manis, bayam, terong, dan kangkung,” tuturnya.

“Curah hujan tinggi menyebabkan produktivitas cabai menurun di beberapa daerah serta menghambat distribusi, karena cabai lebih cepat membusuk. Sementara itu, beberapa sentra produksi bawang merah seperti Kabupaten Nganjuk dan Probolinggo mulai memasuki masa panen,” ujar Zulkipli.

Dalam berita statistik disebutkan pulan bahwa setelah periode libur Natal dan Tahun Baru berakhir, sejumlah harga komoditas yang sempat mengalami kenaikan kini kembali ke level normal, termasuk telur ayam ras yang sebelumnya mengalami kenaikan harga.

Meski mengalami deflasi secara bulanan kata Zulkifli, secara tahunan (year-on-year/yoy) Jawa Timur tetap mencatat inflasi sebesar 1,06 persen pada Januari 2025, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,53. “Banyuwangi menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 1,72 persen (IHK 107,28), sedangkan inflasi terendah tercatat di Kota Kediri sebesar 0,54 persen (IHK 105,53),” ungkapnya .

Sementara inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada beberapa kelompok pengeluaran, termasuk makanan, minuman, dan tembakau (3,92 persen), pakaian dan alas kaki (1,33 persen) serta perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga (0,63 persen).


Ryo

103

Baca Lainnya