Ekonomi Bisnis Pemerintahan

Selasa, 2 September 2025 - 00:29 WIB

8 bulan yang lalu

logo

Berita Statistik; Kinerja Neraca Perdagangan Jawa Timur Tercatat positif

Surabaya | klikku.id – BPS mencatat neraca perdagangan barang Jawa Timur sepanjang periode Januari-Juli 2025 surplus sebesar US$0,24 miliar, lebih tinggi US$2,99 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kinerja ini ditopang oleh ekspor yang mencapai US$16,99 miliar, lebih tinggi dibanding impor yang sebesar US$16,74 miliar,” ujar Zulkipli dalam berita resmi statistik di Surabaya, Senin (1/9/2025).

Disampaikannya menurut data nilai ekspor periode Januari-Juli 2025 meningkat 16,69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan dengan total nilai ekspor naik 18,86 persen.

Sejumlah komoditas unggulan mencatat pertumbuhan ekspor yang tinggi sepanjang Januari-Juli 2025. Ekspor perhiasan/permata menyumbang US$3,76 miliar, naik 22,72 persen.

Sementara ekspor tembaga juga mengalami kenaikan 13,88 persen menjadi US$1,49 miliar. Selain itu, ekspor lemak dan minyak hewan/nabati juga tercatat mengalami kenaikan sebesar 44,48 persen menjadi US$1,30 miliar.

Dari sisi negara tujuan, periode Januari-Juli 2025 ini, Swiss tetap menjadi pasar ekspor utama komoditas non migas dengan nilai mencapai US$2,55 miliar (15,30 persen), disusul Amerika Serikat sebesar US$2,14 miliar (12,86 persen) dan Tiongkok sebesar US$2,09 miliar (12,54 persen).

Ekspor ke Sswiss didominasi oleh perhiasan/permata, kendaraan dan bagiannya, serta perkakas dan peralatan bukan dari logam mulia. Sedangkan komoditas utama ke Amerika Serikat diantaranya ikan, krustacea, dan moluska, lalu kayu dan barang dari kayu, serta perabot, lampu, dan alat penerangan.

Sementara itu dari sisi impor, BPS mencatat nilai impor Januari-Juli 2025 sebesar US$16,74 miliar atau turun 3,26 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyumbang utama berasal dari sektor migas dengan penurunan 34,121 persen. Sedangkan impor sektor non migas justru mengalami kenaikan sebesar 6,87 perse.

Penyumbang utama impor komoditas non migas adalah mesin dan peralatan mekanis (US$1,47 miliar), perhiasan/permata (US$1,04 miliar), serta besi dan baja (US$0,87 miliar). Dari sisi penggunaan, BPS juga mencatat bahwa impor bahan baku atau penolong turun 3,50 persen.

Sementara periode Januari-Juli 2025, Tiongkok menjadi negara asal impor non migas terbesar dengan nilai US$4,79 miliar (34,37 persen), diikuti Amerika Serikat sebesar US$0,83 miliar (5,96 persen), dan Brazil sebesar US$0,63 miliar (4,53 persen).

“Impor dari Tiongkok didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis, buah-buahan, serta besi dan baja,” pungkas Zulkifli. Ryo


 

76

Baca Lainnya