Peristiwa

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 11:29 WIB

6 bulan yang lalu

logo

BNPB: Identifikasi Korban Pesantren Roboh Tak Bisa Cepat, Harus Teliti dan Transparan

Sidoarjo | klikku.id – Proses identifikasi para korban robohnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, masih terus berlangsung.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan, penanganan korban tidak bisa dilakukan secara instan karena harus melewati serangkaian tahapan yang ketat dan terukur.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, meskipun sejumlah jenazah telah ditemukan, proses identifikasi tetap wajib melalui pemeriksaan forensik dan verifikasi administrasi sebelum diserahkan ke pihak keluarga.

“Tidak serta-merta setelah ditemukan langsung diserahkan. Ada prosedur forensik dan administrasi yang harus dilalui agar tidak terjadi kesalahan identitas,” kata Suharyanto, dalam konferensi pers di Posko Media Center Darurat, Sabtu (4/10).

Menurut dia, langkah tersebut bukan untuk memperlambat proses, melainkan demi memastikan keakuratan data dan menghindari kesalahan yang dapat menambah duka keluarga korban.

Pihak BNPB juga telah menjelaskan prosedur itu kepada masyarakat dan para orang tua santri terdampak dalam pertemuan sebelumnya.

“Transparansi menjadi kunci. Kami ingin masyarakat memahami bahwa ketelitian ini penting agar tidak ada kekeliruan. Setiap korban akan diidentifikasi dengan benar sebelum diserahkan,” tegasnya.

Berdasarkan data terakhir dari Basarnas hingga Jumat malam (3/10), tim SAR gabungan telah mengevakuasi sembilan jenazah dari reruntuhan bangunan. Proses evakuasi dilakukan dengan kombinasi metode manual dan bantuan alat berat.

Hingga Sabtu pagi (4/10), total korban tercatat sebanyak 167 orang. Dari jumlah itu, 104 orang berhasil diselamatkan, 11 orang luka-luka dan masih dirawat, 13 orang meninggal dunia, sementara sekitar 45 orang lainnya masih dalam pencarian.

BNPB memastikan data tersebut bersifat dinamis dan bisa berubah sesuai perkembangan di lapangan. Proses pencarian korban masih terus dilakukan sepanjang hari dengan menambah jumlah personel dan alat berat.

“Fokus utama kami tetap penyelamatan dan evakuasi. Setiap perkembangan akan kami sampaikan secara terbuka,” tutur Suharyanto.

Tragedi ambruknya bangunan pesantren tersebut mengguncang warga sekitar Buduran sejak Kamis (2/10) sore. Banyak santri yang tengah beraktivitas di asrama ketika insiden terjadi.

Hingga kini, tim gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan masih berjibaku di lokasi demi menemukan seluruh korban. In.Joe.nesia


 

127

Baca Lainnya