Peristiwa

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 07:29 WIB

6 bulan yang lalu

logo

Identifikasi Korban Meninggal Ponpes Al Khoziny Terkendala Rusaknya Sidik Jari, DNA Jadi Jalan Utama

Surabaya | klikku.id – Proses identifikasi korban ambruknya mushalla Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, tidak berjalan mudah. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri mengaku kesulitan mengenali lima jenazah yang dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya karena sidik jari korban sudah rusak.

“Jenazah rata-rata usia 12–15 tahun. Sidik jarinya mulai membusuk, jadi sulit digunakan sebagai acuan identifikasi,” jelas Kabid DVI Pusdokkes Polri Kombes Pol dr Wahyu Hidajati, Jumat (3/10) malam.

Selain sidik jari, metode lain seperti pemeriksaan gigi dan pakaian juga tidak membantu. Pertumbuhan gigi anak usia belasan tahun cenderung sama, sementara seragam santri yang rata-rata putih dan sarung polos tanpa ciri khusus membuat proses makin sulit.

Dengan kondisi itu, tim DVI akhirnya memaksimalkan tes DNA sebagai langkah utama. Namun, pemeriksaan DNA bukan pekerjaan instan. Hasilnya baru bisa keluar paling cepat tiga hari, bahkan bisa memakan waktu hingga dua pekan.

“Langkah terakhir kami tentu mengambil semua sampel DNA dari keluarga dan jenazah. Kalau hasilnya cocok, itu tidak terbantahkan lagi. Jadi ke sanalah kami arahkan proses identifikasi, sambil berpacu dengan waktu,” tambah Wahyu.

Ia juga meminta keluarga korban bersabar menunggu proses identifikasi yang masih berlangsung di ruang post mortem RS Bhayangkara.

“Begitu ada kecocokan, kami akan segera menghubungi keluarga untuk memastikan. Termasuk bagaimana jenazah dirawat, dimandikan, hingga dimakamkan,” tegasnya.

Hingga Jumat malam, delapan jenazah korban runtuhnya mushalla Al Khoziny sudah dievakuasi ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan lanjutan. Proses identifikasi dipastikan terus berjalan agar keluarga segera mendapat kepastian. In.Joe.nesia


 

92

Baca Lainnya