SURABAYA | klikku.id – Menjelang akhir 2025, empat pilar penting penjaga stabilitas ekonomi, BI, OJK, LPS, dan Kementerian Keuangan, merapatkan barisan untuk memastikan ekonomi Jawa Timur tetap solid menghadapi tahun depan.
Sinergi itu ditegaskan dalam Temu Media bertema Sinergi dan Kolaborasi untuk Stabilitas dan Pemerataan Ekonomi Jatim yang digelar di Surabaya, Rabu (19/11).
Kepala KPw BI Jatim, Ibrahim, menyebut kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci agar ekonomi Jatim tetap tumbuh merata di tengah dinamika nasional dan global.
Ia memaparkan, ekonomi Jatim pada triwulan III 2025 tumbuh 5,22 persen (yoy), ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi.
“Dari sisi penawaran, konstruksi, pertanian, jasa pendidikan, dan infokom menjadi motor utamanya,” ujarnya.
Inflasi pun relatif terkendali di angka 2,61 persen (yoy). Namun Ibrahim mengingatkan adanya risiko kenaikan harga pangan menjelang Natal dan Tahun Baru.
Untuk itu, BI bersama Pemprov Jatim akan menggelar High Level Meeting TPID, TP2DD, dan TP2ED guna menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan.
Dari sisi penjaminan simpanan, LPS II Jatim memastikan perlindungan sektor perbankan tetap terjaga. Kepala LPS II, Bambang S. Hidayat, menyebut masyarakat mulai kembali menabung setelah sempat “menggerus tabungan” pada masa tekanan ekonomi. “Rekening kecil kembali tumbuh. Kepercayaan publik membaik,” tegasnya.
Hingga September 2025, lebih dari 90 persen rekening nasional masih dijamin LPS, termasuk 75,02 juta rekening bank umum di Jatim.
OJK Jatim melaporkan intermediasi perbankan bergerak positif. Dana Pihak Ketiga tumbuh 4,81 persen dan kredit naik 3,58 persen. Kredit UMKM tetap dominan dengan porsi 37,75 persen.
Literasi keuangan digencarkan: lebih dari 803 ribu orang menerima edukasi sejak 2024. OJK juga memperketat perlindungan konsumen. Melalui Indonesia Anti Scam Center (IASC), 93.819 rekening kejahatan keuangan diblokir dengan total dana beku Rp376,5 miliar.
Dari sektor fiskal, Kemenkeu Jatim mencatat pendapatan negara telah mencapai Rp180,63 triliun atau 63,88 persen dari target. Belanja negara terserap 72,97 persen, dengan pendidikan dan kesehatan menjadi sektor terbesar.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti ikut menggerakkan ekonomi kerakyatan di Jatim dengan melibatkan 2.942 pemasok lokal.
Sinergi empat lembaga besar ini menjadi pondasi kuat bagi Jawa Timur untuk menatap 2026 dengan optimis: stabil, tumbuh, dan semakin merata. AMan
