SURABAYA | klikku.id – Aktivitas ekonomi Jawa Timur sepanjang Oktober–November 2025 menunjukkan geliat positif di sektor pariwisata dan perdagangan luar negeri, meski tekanan harga di tingkat petani masih terasa.
Hal itu disampaikan Statistisi Ahli Madya BPS Jatim, Debora Sulistya Rini, dalam rilis terbaru, Senin (1/12).
Menurut Debora, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jatim melalui Bandara Juanda mencapai 29.534 orang pada Oktober 2025.
Sementara pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sepanjang Januari–Oktober 2025 melonjak hingga 181,02 juta perjalanan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada bulan yang sama tercatat 52,63 persen.
“Ini menunjukkan mobilitas wisatawan, baik luar negeri maupun domestik, tetap tinggi menjelang akhir tahun,” ujar Debora.
Di sektor pertanian, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) November 2025 turun ke angka 114,44, melemah 0,47 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini dipicu turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,32 persen.
Sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik 0,15 persen. Meski begitu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) justru naik tipis 0,06 persen.
Pada sisi inflasi, Jawa Timur mengalami inflasi 2,63 persen (y-on-y) pada November 2025 dengan IHK 109,42. Sumenep menjadi daerah dengan inflasi tertinggi 3,26 persen, sedangkan Gresik tercatat terendah 2,02 persen.
Kenaikan harga dipengaruhi melonjaknya indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau (3,81 persen), perawatan pribadi (13,56 persen), kesehatan (1,96 persen), transportasi (1,01 persen), dan sejumlah kelompok lainnya.
Satu-satunya kelompok yang turun adalah informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,54 persen. Inflasi m-to-m tercatat 0,17 persen dan y-to-d sebesar 2,16 persen.
Dari sisi perdagangan, performa ekspor Jawa Timur menunjukkan tren positif. Selama Januari–Oktober 2025, nilai ekspor tembus US$25,34 miliar, naik signifikan 16,64 persen dibanding periode sama tahun lalu. Sementara nilai impor turun 3,56 persen menjadi US$24,25 miliar.
“Sehingga neraca perdagangan Jatim mencatat surplus US$1,09 miliar,” jelas Debora.
Kombinasi melonjaknya ekspor, kuatnya pergerakan wisatawan, dan inflasi yang relatif terkendali membuat perekonomian Jatim dinilai tetap solid memasuki akhir tahun.
Namun BPS mengingatkan perlunya perhatian khusus pada daya beli dan kesejahteraan petani agar tetap terjaga. AMan
