Ekonomi Bisnis Peristiwa

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:29 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Euforia Nataru Dongkrak Belanja Warga Surabaya, Transaksi Ritel Akhir Tahun Tetap Tumbuh 

SURABAYA | klikku.id  – Gelombang belanja akhir tahun di Surabaya belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Bank Indonesia memproyeksikan kinerja ritel Kota Pahlawan pada Desember 2025 tetap bergerak naik. Ini ditopang lonjakan konsumsi masyarakat saat Natal dan Tahun Baru.

Survei Penjualan Eceran (SPE) BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember berada di level 500,4. Angka itu mencerminkan pertumbuhan 17,0 persen secara tahunan. Walau lebih landai dibanding November yang tembus 21,4 persen, laju konsumsi masih berada di jalur ekspansi.

“Kelompok komoditas yang paling menikmati efek musim liburan adalah makanan dan minuman, suku cadang serta aksesori kendaraan, serta barang hiburan dan rekreasi. Mobilitas warga yang meningkat mendorong kebutuhan konsumtif, mulai dari belanja harian hingga perlengkapan perjalanan,” ujar Kepala KPw BI Jatim Ibrahim, Jumat (16/1).

Ia menambahkan, subkelompok sandang juga ikut terdongkrak. Sebaliknya, sektor bahan bakar kendaraan masih tertahan.

“Sementara peralatan rumah tangga dan produk teknologi informasi mulai bergerak pulih meski belum sepenuhnya keluar dari tekanan,” tuturnya.

Secara bulanan, ritel Surabaya pada Desember diperkirakan naik 0,9 persen dibanding November. Hampir semua kelompok komoditas berada di zona hijau, dengan pertumbuhan paling kuat pada produk teknologi, barang rekreasi, dan suku cadang.

“Kekuatan belanja warga Surabaya menunjukkan daya beli yang masih terjaga. Momentum akhir tahun selalu menjadi mesin utama konsumsi. Aktivitas masyarakat meningkat dan itu langsung tercermin pada penjualan ritel,” tegasnya.

Pada November 2025, realisasi IPR Surabaya tercatat 496,1 atau tumbuh 21,4 persen (yoy), lebih tinggi dari Oktober. Secara nasional, penjualan ritel juga menguat.

Ke depan, BI melihat peluang konsumsi kembali naik pada Februari 2026 saat Imlek. Namun pada Mei, laju ritel berpotensi melambat karena berkurangnya hari efektif penjualan akibat rangkaian cuti bersama.

“Permintaan tetap kuat, tapi perlu diantisipasi tekanan harga musiman. Stabilitas pasokan harus dijaga agar inflasi tidak menggerus daya beli,” pungkasnya. AMan


 

107

Baca Lainnya