SURABAYA | klikku.id – Inovasi teknologi keselamatan kerja lahir dari tangan mahasiswa Universitas Widya Kartika (UWIKA).
Seorang mahasiswa Teknik Elektro, Regan Ardinata, mengembangkan smart helmet berbasis Internet of Things (IoT), untuk meningkatkan keselamatan pekerja di sektor pertambangan.
Helm pintar ini dirancang untuk mendeteksi potensi bahaya secara dini melalui sejumlah sensor yang bekerja real-time.
Di antaranya sensor suhu LM135, sensor gas beracun MQ-135, serta sensor MAX30102 yang mampu memantau detak jantung dan kadar oksigen dalam darah (SpO₂).
Tak hanya itu, perangkat ini juga dilengkapi GPS untuk melacak posisi pekerja di area tambang yang luas dan berisiko tinggi.
Data yang dikumpulkan kemudian diolah menggunakan metode Fuzzy Mamdani untuk menentukan kondisi dalam dua kategori utama, yakni aman atau bahaya.
Jika sistem mendeteksi potensi risiko, helm akan memberikan peringatan otomatis melalui fitur voice alert. Informasi kondisi juga ditampilkan pada layar LCD agar pekerja dapat langsung mengetahui situasi di sekitarnya.
Menariknya, seluruh data terintegrasi dengan aplikasi Blynk, sehingga pengawas dapat memantau kondisi pekerja dari jarak jauh secara real-time.
Regan menjelaskan, inovasi ini berangkat dari tingginya angka kecelakaan kerja di sektor tambang.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya memantau lingkungan, tetapi juga kondisi tubuh pekerja secara langsung agar potensi bahaya bisa dideteksi lebih cepat,” ujarnya.
Menurutnya, sistem ini memungkinkan respons yang lebih cepat saat kondisi darurat terjadi. Dengan pemantauan terintegrasi, keputusan dapat diambil secara lebih tepat dan efisien.
Pengembangan smart helmet ini diharapkan tidak hanya bermanfaat di sektor pertambangan, tetapi juga dapat diterapkan di industri lain seperti konstruksi dan manufaktur yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Inovasi ini menjadi bukti, bahwa pemanfaatan teknologi digital mampu menghadirkan solusi konkret bagi peningkatan standar keselamatan kerja di Indonesia. AMan
