SURABAYA | klikku.id – Warga Jalan Genteng Kali dikejutkan dengan aksi biadab seorang guru ngaji berinisial MZ (22). Ia diamankan Satreskrim Polrestabes Surabaya, karena diduga melecehkan tujuh anak didiknya sendiri. Aksi cabul itu berlangsung lama, dari awal 2025 hingga April 2026.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, mengungkapkan modus operandi pelaku sangat licik. Dimana MZ memanfaatkan kepercayaan orang tua santri yang menitipkan anak-anak mereka, untuk menginap di yayasan setiap akhir pekan.
“Dalam momen tidur bersama di kamar tersangka, pelaku melakukan perbuatan cabul berupa oral seks terhadap korban yang masih di bawah umur,” jelas Luthfie.
Tujuh korban yang berusia antara 10 hingga 15 tahun tersebut, kini tengah mendapat pendampingan psikologis intensif dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
Identitas mereka dirahasiakan demi perlindungan hukum, namun polisi memastikan semua korban adalah santri asuh MZ.
Polisi bergerak cepat setelah menerima laporan. Bermodal keterangan saksi, kesaksian korban, serta barang bukti berupa pakaian yang kini sedang uji lab forensik, MZ resmi ditetapkan sebagai tersangka. Ia kini meringkuk di tahanan Mapolrestabes Surabaya.
Ancaman hukuman yang menjerat MZ sangat berat. Polisi menerapkan pasal berlapis, mengingat adanya penyalahgunaan wewenang dan korban adalah anak di bawah umur.
MZ dijerat Pasal 6 Huruf C UU TPKS tentang penyalahgunaan kedudukan, Pasal 15 Huruf g UU TPKS untuk pemberatan pidana terhadap anak, serta Pasal 415 Huruf b KUHP Baru tentang perbuatan cabul terhadap anak.
Luthfie menegaskan, pihaknya tidak akan main-main dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak. “Kami terus mendalami kasus ini untuk memastikan tidak ada korban lain. Keadilan dan keselamatan anak adalah prioritas mutlak,” tegasnya.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat, khususnya orang tua wali santri di yayasan tersebut, untuk lebih waspada.
“Jika mendapati kejanggalan atau tanda-tanda anak mengalami trauma pasca-mengaji, segera laporkan ke pihak berwajib. Jangan diam, karena diamnya kita bisa menjadi senjata bagi para predator berkostum guru,” pungkasnya. AM@n
