Daerah Komunitas Opini Politik

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:35 WIB

7 jam yang lalu

logo

Dok gambar iat Rigie KLIKKU.ID

Dok gambar iat Rigie KLIKKU.ID

Deklarasi PNN di Rumah Pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto Berlangsung Khidmat, Teguhkan Semangat Persatuan dan Kebangsaan

SURABAYA | KLIKKU.ID — Partai Nasionalis Nusantara (PNN) resmi mendeklarasikan keberadaannya di Kampung Peneleh Gang VII, Surabaya, Kamis (1/10/2026). Deklarasi yang berlangsung di kawasan bersejarah Rumah Pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto tersebut berjalan khidmat. Momentum itu sekaligus diwarnai semangat persatuan, kebangsaan, dan tekad membangun kekuatan politik yang berpijak pada kepentingan masyarakat.

Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dan dipusatkan di depan rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.

Rumah yang beralamat di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29–31 itu bukan sekadar bangunan bersejarah. Pada masa pergerakan nasional, tempat tersebut menjadi ruang tumbuhnya berbagai gagasan, diskusi, dan perdebatan politik para tokoh muda mengenai masa depan bangsa.

Haji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto dikenal sebagai salah satu tokoh sentral pergerakan nasional sekaligus pemimpin Sarekat Islam.

Kediamannya di kawasan Peneleh, Surabaya, menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap persoalan kebangsaan di tengah tekanan pemerintahan kolonial.

Rumah tersebut juga pernah menjadi tempat tinggal sejumlah pemuda yang kemudian memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Indonesia. Di antaranya Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso, dan Kartosoewirjo.

Soekarno muda, ketika masih menempuh pendidikan di Surabaya, bersentuhan langsung dengan lingkungan politik dan pemikiran pergerakan di rumah tersebut.

Lingkungan Peneleh kemudian menjadi salah satu ruang penting bagi berkembangnya gagasan nasionalisme, Islam, sosialisme, pergerakan rakyat, hingga pemikiran mengenai masa depan Indonesia.

Tjokroaminoto tidak hanya dikenal sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga sebagai pendidik politik bagi generasi muda. Interaksi intelektual dan diskusi yang berlangsung di lingkungan rumahnya ikut membentuk perjalanan pemikiran sejumlah tokoh yang kemudian mengambil jalan perjuangan masing-masing.

Kini, rumah tersebut dikenal sebagai salah satu situs bersejarah Kota Surabaya dan telah menjadi museum.

Keberadaannya menjadi pengingat bahwa gagasan kebangsaan Indonesia tumbuh melalui proses panjang yang melibatkan pendidikan, diskusi, organisasi, dan perjuangan.

Karena itu, pemilihan kawasan Peneleh sebagai lokasi deklarasi PNN memiliki dimensi simbolik tersendiri. Deklarasi tidak hanya berlangsung di sebuah lokasi bersejarah, tetapi juga mengambil tempat yang memiliki kaitan erat dengan perjalanan pendidikan politik dan pergerakan kebangsaan Indonesia.

Deklarasi PNN berlangsung bertepatan dengan momentum Hari Kesaktian Pancasila. Nuansa historis kawasan Peneleh semakin memberikan warna tersendiri terhadap kegiatan yang dihadiri jajaran pengurus, kader, serta sejumlah unsur masyarakat dan perangkat pemerintahan setempat.

PNN dipimpin Teten Indra Abdillah sebagai Ketua Umum dan Menur Soekarno sebagai Sekretaris Jenderal, bersama jajaran Tim 7.

Partai tersebut mengusung nilai perjuangan yang dirumuskan dalam semangat berakhlak, nasionalis, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Sejumlah unsur masyarakat dan perangkat pemerintahan setempat turut hadir menyaksikan jalannya deklarasi. Di antaranya Ketua RW 04, Ketua RT 02, serta unsur ketenteraman dan ketertiban (Trantib) Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng.

Pengamanan kegiatan juga dilakukan jajaran Polsek Genteng dan Polrestabes Surabaya untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan kondusif.

Ketua DPW PNN Provinsi Jawa Timur, Cak Bram, mengatakan deklarasi di Peneleh memiliki arti penting bagi perjalanan organisasi, khususnya dalam memperkuat konsolidasi PNN di Jawa Timur.

Menurutnya, pemilihan Peneleh sebagai lokasi deklarasi bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang pergerakan kebangsaan Indonesia.

“Bagi kami, deklarasi ini bukan sekadar seremoni. Ini menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen membangun organisasi yang berlandaskan nilai kebangsaan, persatuan, keadilan, dan kemakmuran,” ujar Cak Bram saat diwawancarai wartawan di sela kegiatan.

Ia mengatakan DPW PNN Jawa Timur selanjutnya akan memperkuat konsolidasi organisasi, kaderisasi, serta komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.

Keberadaan PNN di Jawa Timur, lanjutnya, akan diarahkan pada penguatan kader dan kerja organisasi yang berkesinambungan dengan tetap menjadikan nilai persatuan dan kepentingan masyarakat sebagai bagian penting dari perjuangan.

Sementara itu, Ketua Umum PNN Teten Indra Abdillah dalam orasinya menegaskan bahwa partai yang dipimpinnya ingin membangun kekuatan politik yang berpijak pada nilai kebangsaan, akhlak, persatuan nasional, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran rakyat.

Menurut Teten, PNN tidak hanya ingin menjadi partai politik, tetapi juga membangun kekuatan kader yang memiliki kapasitas dan keberdayaan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kita ingin membangun partai kader dan nasionalis. Kader yang berdaya harus mampu memberdayakan masyarakat dan rakyat Indonesia,” tegas Teten.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan politik dan ekonomi.

“Politik dan ekonomi harus berjalan beriringan sehingga tidak timpang dan berjalan bersama menuju Indonesia yang maju, adil, dan makmur,” tandasnya.

Dalam narasi perjuangannya, PNN menempatkan nilai politik kebangsaan yang dikaitkan dengan pemikiran Ir. Soekarno serta gagasan ekonomi kerakyatan Drs. Mohammad Hatta sebagai dua gagasan yang ingin disinergikan dalam membangun kehidupan bernegara.

Gagasan tersebut menjadi bagian dari narasi PNN untuk membangun politik yang tidak semata berbicara mengenai kekuasaan, tetapi juga menyentuh persoalan pemberdayaan masyarakat dan kepentingan rakyat. Sebagai partai yang relatif baru, PNN mulai memperkenalkan identitas serta arah perjuangannya kepada masyarakat. Dalam proses konsolidasi tersebut, partai ini juga mulai dikenal dengan sebutan “Partai Banteng Putih.”

Teriknya matahari Kota Surabaya tidak menyurutkan semangat para kader dan pengurus yang mengikuti seluruh rangkaian deklarasi. Semangat kebersamaan tetap terlihat hingga kegiatan berakhir. Deklarasi kemudian ditutup dengan doa bersama dan pekikan semangat perjuangan: “MERDEKA!”

#KLIKKU.ID Rigi

26

Baca Lainnya