Medan – Kondisi pendangkalan alur pelayaran di Pelabuhan Belawan menjadi sorotan serius Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, saat melakukan kunjungan kerja ke Medan, Senin (21/7). Menurutnya, hambatan ini menggerus daya saing Belawan sebagai pelabuhan ekspor-impor strategis di wilayah barat Indonesia.
“Alur pelayaran Belawan harus segera dinormalisasi. Pendangkalan yang terjadi tidak bisa dibiarkan karena menghambat masuknya kapal-kapal besar internasional,” kata Bambang.
Ia menilai, jika kondisi tersebut tidak segera ditangani, maka potensi Pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan hub akan sulit tercapai. Saat ini, kata Bambang, volume bongkar muat di Belawan masih berkisar 1,5 juta TEUs per tahun, jauh tertinggal dibanding pelabuhan-pelabuhan utama di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia yang mencapai puluhan juta TEUs.
“Padahal 70 persen lalu lintas kapal dunia melintasi Selat Malaka. Ini peluang besar jika fasilitas pelabuhan kita siap,” ujarnya.
Bambang juga menyoroti kapasitas darat yang sebenarnya sudah mumpuni. Fasilitas crane dan area penumpukan kontainer dinilai cukup memadai dan mampu menampung hingga 4 juta TEUs. Namun, potensi ini tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal tanpa perbaikan di sisi alur laut.
“Kalau akses lautnya dangkal, kapal besar tidak akan masuk. Akibatnya, kapasitas besar itu tidak terpakai,” tambahnya.
Menanggapi hal ini, Pelaksana Harian Executive General Manager Pelindo 1 Belawan, Mahadi Widigdo, menyebut pengerukan atau normalisasi memang dibutuhkan. Namun hingga kini, prosesnya masih menunggu kelengkapan administrasi dari asosiasi pelayaran INSA Medan.
“Kami masih menunggu persetujuan tarif dari INSA. Begitu disetujui, dokumen bisa dikirim sebagai dasar pelaksanaan pengerukan,” jelas Mahadi.
Menurutnya, alur Pelabuhan Belawan saat ini memiliki kedalaman antara 7,9–8 meter LWS, dan saat air pasang bisa mencapai 9–10 meter. Idealnya, alur tersebut harus dikeruk hingga mencapai 11–12 meter dengan panjang 26 kilometer dan lebar 100–150 meter agar kapal besar dapat langsung menuju laut lepas.
Mahadi menambahkan, sedimentasi tanah di alur tersebut terjadi setiap tahun dengan rata-rata 70–80 sentimeter, sehingga pengerukan rutin menjadi keharusan.
“Kami berharap kunjungan Pak Bambang bisa mempercepat proses ini. Kami siap mendukung jika proses birokrasi bisa segera dituntaskan,” tutupnya.
