Pendidikan Peristiwa

Jumat, 15 Agustus 2025 - 06:09 WIB

10 bulan yang lalu

logo

Unair & UNESCO Bedah Buku Bongkar Strategi Lestarikan Budaya Takbenda

Surabaya | klikku.id  – Warisan budaya takbenda (WBTb) Indonesia bukan hanya soal menjaga tarian, musik, atau kerajinan agar tetap utuh. Lebih dari itu, ia perlu dihidupkan kembali, disesuaikan dengan zaman, dan diwariskan lintas generasi,

Pesan itu mengemuka dalam bedah buku Identitas, Inovasi, dan Intergenerasi, yang digelar Program Magister Media dan Komunikasi FISIP Universitas Airlangga (Unair) bersama Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Kamis (14/8/2025).

Buku setebal ratusan halaman itu merangkum esai-esai populer tentang strategi pelestarian WBTb Indonesia yang telah diakui UNESCO.

“Pelestarian budaya takbenda tidak bisa hanya bersandar pada nostalgia. Ia perlu masa depan, dan masa depan itu sekarang berada di tangan anak muda yang hidup di ruang digital,” tegas Kaprodi Magister Media & Komunikasi, Yuyun WI Surya, Ph.D.

Dekan FISIP Unair, Prof Bagong Suyanto, dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran buku ini menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam menjaga budaya.

“Tugas kami bukan hanya mengajar di kelas, tapi juga melahirkan gagasan dan strategi yang bisa digunakan di lapangan,” ujarnya.

Salah satu ide segar muncul dari Saevasilvia, mahasiswa Magister Media dan Komunikasi yang turut menjadi kontributor. Ia mengenalkan “robot angklung” sebagai jembatan antara kecintaan pada tradisi dan minat terhadap teknologi.

“Anak-anak sekarang tumbuh bersama gawai. Kalau kita bisa membunyikan angklung lewat teknologi, memori budaya itu bisa hidup lagi,” katanya.

Gagasan kreatif seperti itu, menurut Yuyun, penting untuk menjaga WBTb agar tak sekadar disimpan, tetapi dialihwahanakan, diadaptasi dalam medium baru, supaya relevan bagi generasi kini dan mendatang.

Dari sisi kebijakan, Hartanti Maya Krisna dari Direktorat Kerja Sama, Promosi, dan Diplomasi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, menegaskan perlunya strategi nasional yang menghubungkan akar budaya lokal dengan panggung global.

“Diplomasi kebudayaan harus berbasis data, jaringan, dan cerita yang lahir dari komunitas,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa pelestarian bukan hanya mempertahankan bentuk fisik seperti tarian, lagu, atau alat musik. Lebih penting, memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang menyertainya.

Setiap upaya pelindungan juga wajib menghormati praktik adat, termasuk pembatasan akses pada unsur budaya yang bersifat sakral atau rahasia.

“Kalau intervensinya salah, nilai budayanya bisa hilang. Karena itu, pelestarian harus melibatkan dan mendapat persetujuan komunitas pemilik,” tegas Maya.

Acara yang berlangsung di kampus FISIP Unair itu sekaligus menjadi ajang diskusi lintas generasi. Hadir akademisi, mahasiswa, pegiat budaya, dan perwakilan pemerintah.

Semua sepakat, WBTb hanya akan bertahan jika terus diciptakan ulang, relevan, dan hidup di hati generasi penerus. @Man


 

92

Baca Lainnya