Surabaya | klikku.id – Tragedi ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo yang menewaskan puluhan santri menjadi pelajaran penting bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan akan melakukan pendataan ulang seluruh pondok pesantren di wilayahnya, terutama terkait legalitas dan kondisi bangunan.
Eri mengatakan, banyak bangunan pesantren yang usianya sudah tua dan berpotensi mengalami kerusakan struktural.
Karena itu, Pemkot Surabaya akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi fisik dan legalitas setiap pondok.
“Kami akan lakukan pendataan. Nanti bersama pemerintah provinsi kami lihat kondisi pondok-pondok di Surabaya. Kami berharap semua pondok punya izin, supaya bisa kami bantu perbaikan kalau memang dibutuhkan,” ujar Eri usai menghadiri takziah, Kamis (9/10).
Ia menegaskan, pemerintah hanya bisa melakukan intervensi perbaikan bagi ponpes yang memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) atau Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Bagi yang belum berizin, Pemkot berkomitmen membantu pengurusan izinnya.
“Kalau belum berizin, akan kami bantu urus. Ini jadi pembelajaran penting. Semua lembaga pendidikan, termasuk keagamaan, harus taat izin,” tegasnya.
Eri juga mengungkapkan, pihaknya masih melakukan inventarisasi jumlah ponpes di Surabaya. Pendataan ini akan disesuaikan dengan kewenangan pengelolaan pendidikan antara pemerintah kota dan provinsi.
“Untuk SD dan SMP di bawah pemerintah kota, sedangkan SMA di bawah provinsi. Jadi nanti kita koordinasikan agar tidak tumpang tindih,” jelasnya.
Sementara itu, Irvan Widyanto, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya, menyampaikan bahwa pihaknya juga akan menggelar pelatihan mitigasi bencana bagi santri dan pengurus pesantren.
“Kami sudah kirim surat ke camat dan Kementerian Agama untuk meminta data pesantren. Setelah itu akan kami jadwalkan pelatihannya, targetnya tahun ini,” ungkapnya.
Pelatihan itu, lanjut Irvan, bertujuan menyiapkan SDM yang tanggap bencana dan mampu melakukan evakuasi jika terjadi situasi darurat.
Langkah pendataan dan pelatihan ini diharapkan menjadi benteng pencegahan dini agar insiden tragis seperti di Sidoarjo tak terulang di Surabaya. In.Joe.nwsia
