Kesehatan Pemerintahan

Rabu, 19 November 2025 - 18:29 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Temuan Kasus TBC di Jatim Baru 62 Persen, Dinkes Ingatkan Target Eliminasi 2030 Terancam

SURABAYA | klikku.id – Upaya Jawa Timur mengejar target eliminasi tuberkulosis (TBC) pada 2030 kembali mendapat sorotan.

Dalam rapat monitoring dan evaluasi percepatan eliminasi TBC di Kantor Dinkes Jatim, Rabu (19/11), Kepala Dinas Kesehatan Jatim dr. Erwin Astha Triyono membeberkan masih rendahnya angka temuan kasus tahun 2025 yang baru menyentuh 62,11 persen dari target 95 persen Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).

“TBC masih menjadi masalah kesehatan nasional. Jika gap ini tidak segera ditutup, penularannya akan makin sulit dikendalikan dan target eliminasi tahun 2030 akan semakin berat,” tegas Erwin.

Mengacu Global TB Report 2024, Indonesia menjadi negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia setelah India, dengan estimasi 1,09 juta kasus baru. Jawa Timur ikut menyumbang porsi besar sehingga menjadi barometer capaian program TBC nasional.

Erwin memaparkan, kinerja penemuan kasus Jatim sebenarnya menunjukkan tren naik dalam lima tahun terakhir. Pada 2021, temuan 52.212 kasus atau 54,43 persen dari estimasi 95.925 kasus.

Tahun berikutnya melonjak menjadi 82.411 kasus (76,63 persen). Di 2023, capaian hampir sempurna: 92.723 kasus dari 93.309 estimasi atau 99,37 persen.

Namun pada 2024, angkanya kembali menurun menjadi 90.863 kasus (77,84 persen), dengan 83.244 pasien memulai pengobatan.

“Artinya masih ada 8,39 persen kasus yang ditemukan tapi belum diobati. Kondisi ini berbahaya karena memperpanjang rantai penularan,” ujarnya.

Untuk mengejar ketertinggalan, Dinkes Jatim kembali menegaskan enam strategi nasional eliminasi TBC. Mulai dari penguatan komitmen pemerintah daerah, peningkatan akses layanan TBC yang berpihak pada pasien, perluasan skrining dan pengobatan pencegahan, hingga pemanfaatan teknologi diagnostik.

Selain itu, Erwin menekankan pentingnya mendorong keterlibatan komunitas dan lintas sektor. “Program TBC tidak bisa berjalan sendiri. Peran puskesmas, rumah sakit, kader, hingga komunitas sangat menentukan percepatan penemuan dan keberhasilan pengobatan,” katanya.

Dengan waktu yang semakin sempit menuju 2030, ia meminta semua kabupaten/kota mempercepat gerak. “Standar sudah jelas, waktunya mengeksekusi,” tandasnya. Nughie


 

108

Baca Lainnya