Daerah Ekonomi Bisnis Pemerintahan

Kamis, 27 November 2025 - 20:26 WIB

7 bulan yang lalu

logo

klikku.id dok Anam Biro Bangkalan Jawa Timur.

klikku.id dok Anam Biro Bangkalan Jawa Timur.

Kisah Kerja Senyap Petani Tunjung Burneh Mendobrak Batasan Musim Tanam di Bangkalan

Bangkalan | klikku.id — Disaat sebagian besar wilayah Bangkalan baru bersiap memasuki masa tanam, petani di Desa Tunjung, Kecamatan Burneh, justru telah memanen untuk ketiga kalinya dalam satu tahun. Fenomena yang jarang terjadi ini menjadi sorotan, sebab Tunjung berhasil menembus sekat teknis, cuaca, hingga keterbatasan irigasi yang kerap menjadi kendala terbesar bagi petani daerah lain.

Di area yang memiliki potensi 1.800 hektare untuk ditanami, baru sekitar 100 hektare lahan yang berhasil mencapai panen ketiga (MT3). Namun capaian ini telah cukup untuk menunjukkan bahwa Tunjung memiliki “resep” yang belum ditemui di desa lain.

Kepala Bidang Sarpras Dinas Pertanian Bangkalan, Dr. CHK Karyadinata S.Pt M.E, menjelaskan bahwa kunci utama keberhasilan Tunjung bukan hanya pada ketersediaan air, tetapi pada kemauan petani untuk menanam saat orang lain berhenti.

“Menanam di musim kemarau bagi sebagian petani dianggap di luar nalar. Tetapi di Tunjung, kelompok tani mampu meyakinkan petaninya. Airnya ada, pompa cadangan siap,” ujarnya.

Keberanian untuk melawan pola pikir lama inilah yang menjadi fondasi tumbuhnya produktivitas.

Investigasi lapangan menemukan bahwa system pengairan di Tunjung berdiri atas kerja sama warga. Bukan bergantung pada proyek besar, melainkan gotong royong masyarakat yang memastikan air tetap mengalir.

Dinas sendiri menempatkan pompa sebagai cadangan bukan sumber utama untuk berjaga-jaga bila debit air berkurang. Disinilah letak keunggulannya: kemandirian petani justru menjadi kekuatan.

Hambatan terbesar bukan lagi air, melainkan hama yang justru meningkat di musim kemarau. Untuk menjaga tanaman, petani memasang jaring, membunyikan trompet, dan berjaga hampir sepanjang hari.

Ketua Kelompok Tani Roksetani II mengungkap selama ini sudah kian menikmati hasil panen melalui perhatian pemerintah yang kian maksimal.

“Satu hektare butuh tiga sak jaring. Berat, tapi dengan harga gabah Rp7.500, petani masih untung.” terangnya.

Kerja pengendalian hama ini bukan sekadar rutinitas, tetapi upaya kolektif yang membuat panen ketiga tetap aman.

Dengan harga gabah mencapai Rp7.500/kg, petani semakin termotivasi untuk memaksimalkan produktivitas. Meski pemerintah menerapkan konsep “anytime quality”, yang berarti kualitas gabah tidak lagi menjadi penentu harga, kelangkaan gabah membuat harga tetap stabil di level tinggi.

Tingkat produktivitas saat ini mencapai rata-rata 5,2 ton/ha, dan target ke depan adalah 6 ton/ha. Dengan capaian itu, petani bisa menghasilkan sekitar Rp45 juta per hektare dalam sekali panen—angka yang sangat menjanjikan.

Alat mesin pertanian (alsintan) yang digunakan petani tidak diberikan secara individual, melainkan dikelola Brigade Kodim. Perpindahan alat harus berdasarkan izin Koramil agar lebih mudah didistribusikan ke banyak kecamatan, termasuk Burneh.

Meski demikian, sistem ini menuntut koordinasi yang rapi agar tidak menimbulkan antrean atau keterlambatan pada masa tanam mendatang.

Perubahan kultur kerja dinas menjadi sorotan menarik. Petani mengakui bahwa perhatian pemerintah kini jauh lebih intens.

“Dulu kami sulit bertemu dinas. Sekarang tiap hari disurvei, tidak hanya duduk di meja,” ujar salah satu petani senior di Tunjung.

Pendampingan ini membuat petani merasa dihargai dan didorong untuk berani mencoba pola tanam yang lebih maju.

Bupati Bangkalan telah menargetkan agar pada 2026 kabupaten ini mampu mencukupi kebutuhan beras secara mandiri. Namun jalan menuju target itu masih panjang: dari potensi 1.800 hektare MT3, baru 100 hektare yang tercapai, irigasi tersier masih perlu perbaikan dan petani mengusulkan fasilitas penggilingan padi agar nilai jual meningkat.

Pemerintah telah merespons usulan petani, bahkan survei lokasi untuk pembangunan unit penggilingan sudah dilakukan.

Panen ketiga di Tunjung bukan sekadar keberhasilan teknis, tetapi gambaran sinergi antara petani, kelompok tani, dan pemerintah. Keuletan petani dalam menjaga lahan, kemandirian irigasi, serta pendampingan dinas menjadi rangkaian faktor yang melahirkan capaian luar biasa.

Kini tantangan sesungguhnya berada pada replikasi kesuksesan ini ke wilayah lain di Bangkalan. Jika Tunjung mampu membuktikan, tidak ada alasan kecamatan lain tidak bisa mengikuti.

Bangkalan bergerak menuju swasembada—dimulai dari desa yang berani melawan pola lama dan membuktikan bahwa petani yang kuat akan melahirkan daerah yang berdaulat pangan.


(Anam)

100

Baca Lainnya