Kesehatan Pendidikan

Rabu, 10 Juni 2026 - 12:48 WIB

2 hari yang lalu

logo

Unusa Siapkan Bank Donor ASI Syariah Pertama di Indonesia

SURABAYA | klikku.id – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggagas pembentukan Unit Donor ASI berbasis syariah, yang diklaim menjadi model percontohan pertama di Indonesia.

Program tersebut dikembangkan bersama Yayasan ASTAYA (House of Share), RSI Jemursari, RSI Ahmad Yani, dan RSIA Kendangsari, untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi bayi prematur dan bayi berat lahir rendah (BBLR).

Inisiatif itu diluncurkan melalui Seminar Ilmiah Human Milk Bank Berbasis Syariah, yang menghadirkan akademisi, tenaga kesehatan, serta pemangku kepentingan di bidang kesehatan ibu dan anak.

Ketua Yayasan ASTAYA, sekaligus Konsultan Laktasi, dr. Wiyarni Pambudi, Sp.A, IBCLC, menjelaskan, Indonesia masih menghadapi tingginya angka kelahiran prematur dan BBLR yang diperkirakan mencapai 800 ribu kasus setiap tahun.

Dalam kondisi tertentu, donor ASI menjadi pilihan terbaik ketika ASI ibu kandung belum tersedia atau produksinya belum mencukupi.

“Donor ASI terbukti mampu menurunkan risiko berbagai komplikasi pada bayi prematur. Namun selama ini praktik donor ASI banyak dilakukan secara informal sehingga aspek kesehatan dan pencatatan hubungan persusuan belum terjamin,” ujarnya.

Wakil Rektor II Unusa Prof Mohamad Yusak Anshori mengatakan, program tersebut dirancang tidak hanya memenuhi standar medis. Tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat Muslim, terkait kepastian hubungan mahram akibat persusuan.

Karena itu, Unusa menyiapkan Sistem Informasi Mahram Digital, yang memungkinkan seluruh proses donor dan penerima ASI terdokumentasi secara digital. Sistem ini diharapkan menjadi solusi dalam pencatatan nasab sesuai prinsip syariah.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unusa Prof Budi Santoso menilai, program tersebut dapat menjadi model nasional.

“Selain aman dari sisi medis melalui proses skrining dan pengawasan ketat. Layanan donor ASI juga memberikan kepastian dari sisi syariah,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, setiap calon pendonor wajib menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Ini untuk memastikan bebas dari penyakit menular maupun kondisi tertentu yang berisiko.

Setelah lolos seleksi, ASI donor akan diproses dan disimpan sesuai standar keamanan medis sebelum diberikan kepada bayi yang membutuhkan.

Melalui program ini, Unusa berharap akses terhadap ASI donor yang aman, berkualitas, dan sesuai syariah dapat semakin luas sehingga membantu menekan angka kesakitan dan kematian bayi di Indonesia. AM@n


 

41

Baca Lainnya