Daerah Pemerintahan

Rabu, 21 April 2021 - 07:19 WIB

5 tahun yang lalu

logo

Pernak Pernik Ramadan dan Penyaluran Bansos PKH Plus

Tadarus Sosial Kebangsaan

Oleh : A. Baihaqi Ady

Tulisan ini semata merupakan refleksi atas tugas SDM PKH Plus yang penuh heroik. Heroik karena ditengah pelaksanaan ibadah puasa, juga penyaluran Bansos PKH plus yang notebene pendistribusiannya melalui bank penyalur yang ditunjuk yaitu Bank Jatim.

Sementara Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank Jatim disebagian daerah tidak semua ada dikecamatan tempat mereka berdomisili.

Sebagai konsekwensinya, para lansia harus rela dipapah dan diboyong untuk melakukan penarikan dilintas kecamatan. Selain itu, mereka juga tidak tahu mengakses jasa keuangan di dunia perbankan.

Namun demikian, dibalik tugas mulia ini SDM PKH Plus diharapkan menjadi bekal pengabdian serta menjadi harapan baru untuk mengintip masadepan bangsa walaupun semangat kejuangan melawan kegelisahan yang penuh _heroik_ ini menjadi ikhtiar tak berkesudahan.

Jawa Timur sebagai Provinsi yang penduduk miskinnya berjumlah sekitar 11,9% di tahun 2020 versi BPS, tentu menjadi atensi khusus bagi pemerintah provinsi untuk juga ambil bagian dalam mendesain kebijakn untuk menurunkan angka kemiskinan dimkasud, dan _LANSIA_ adalah bagian dari kanal yang dibidik menjadi sasaran program.

PKH Plus adalah produk kebijakan Pemprov Jatim yang tahun ini (2021) telah mampu menyasar di 15 kabupaten/kota dengan jumlah KPM lansia yang berbeda-beda. Setidaknya, program PKH Plus ini dapat mengurangi beban keluarga serta memberi harapan hidup lansia lebih panjang.

Bersamaan dengan itu pula, penyaluran tahap 1 tahun ini berbarengan dengan bulan suci ramdlan. Semangat ini tentu berbanding lurus tujuan berpuasa yang endingnya akan tercipta manusia yang berintegritas yaitu ‘muttaqien’.

Selain menjadi amanah konstitusi, negara juga punya tanggung jawab moral untuk mentransformasikan nilai-nilai keadilan. Kehadiran negara dalam membangun peradaban manusia indonesia tentu menjadi keharusan sistemik yang ekspektasinya akan mengerucut pada tujuan dasar negara ini didirikan.

Haqiqat puasa dalam perspektif sosiologis

Dalam kontek ini, Integritas manusia sejatinya dapat dibidik dalam dua dimensi yang sangat fundamental yaitu: _Pertama_, dimensi etis. Dimensi ini tentu menjadi kodrat bagi seluruh umat manusia dan merupakan unsur yang melekat tak terpisahkan dalam diri manusia.

Dalam istilah yang sangat sederhana dimensi etik itu bermetamorfosis menjadi sebuah keyakinan dan penghambaan dirinya kepada sang khaliq (pencipta).

Puasa adalah bagian dari implementasi nilai-nilai etik yang secara verbal diwajibkan bagi umat muslim dalam tatanan yang sangat tegas, agama.

Berpuasa berarti menenggelamkan sifat dan kodrat kemanusiannya dalam takaran yang sempurna sebagai wujud penghambaan itu. Pada dimensi inilah manusia memiliki pijakan serta tuntunan dalam menjalani kewajiban yang secara dzahir melucuti sifat-sifat dan watak kebinatangan seperti rakus, tamak, serakah serta prilaku hidup hedonis lainnya.

Puasa ramadlan sejatinya menjadi media untuk melatih jiwa ( _riyadhatun nufuus_ ) sebagai ketundukan universal yang pelaksanaannya sangat privat.

Spritualitas puasa tak sekedar menahan lapar dan dahaga tetapi yang sangat prinsip adalah mengasah _rasa_ dan naluri kepekaan sosial sebagai _feedback_ dalam menyahuti dinamika kehidupan dengan tetap tunduk dan patuh pada kaidah-kaidah dan tuntunan puasa yang benar.

Harapannya adalah bila naluri kemanusian ini terasah maka transformasi rasa untuk berbagi pada sesama akan melahirkan pemerataan ekonomi dan semangat berkeadilan akan terwujud.

Dibulan ramadlan ini pula paket sosial sebagai kewajiban yang harus dibayar _chash_ yaitu zakat fitrah. Dalam kontek sosiologis, dua paket kewajiban itu menjadi kolaborasi yang saling berkelindan.

Bila puncak pelaksanaan ibadah puasa adalah lahirnya jiwa yg muttaqien (hablun minallah), maka penyaluran bansos PKH Plus yang sasarannya lebih pada masyarakat yang punya kategori usia lanjut (lansia), maka diharapkan akan menjadi penyucian jiwa dengan kemilau yang terpancar dalam semangat solidaritas bagi sesama (hablun minannaas).

Karena itu, melaksanakan ibadah puasa dalam situasi diatas tidak berarti harus menutup diri untuk melakukan aktifitas sosial. Menjalani hidup dengan segala keterbatasannya sesuai seruan pemerintah tentu harus terintegrasi dengan dimensi yang telah dianugerahkan oleh Allah S.W.T kepada umat manusia dengan dimensi kedua yaitu dimensi sosial.

Dimensi ini dapat dimanfaatkan manusia dalam menjawab kodrat kemanusiaanya sebagai makhluk sosial untuk kemudian berhimpun dalam entitas masyarakat, golongan, ras dan selanjutnya disebut penduduk untuk saling kenal dan memahami. (QS. Alhujurat, ayat 13), Hal ini tentu menjadi modal dasar bagi para SDM PKH plus untuk melakukan interaksi satu sama lain.

Interdependensi individu dengan yang lainnya tentu berkelindan dengan perputaran sosial ekonomi yang secara gamblang dapat dirumuskan dalam trisila kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan sandang, pangan dan papan.

Tiga kebutuhan dasar manusia ini menjadi poros untuk menemukan jati dirinya sebagai makhluq yang saling membutuhkan. Dalam kontek ini, tokoh sekaliber Arestoteles menyebutnya manusia yang demikian dengan istilah “Zoon Sosial Politicon”.

Dengan ibadah puasa di bulan Ramadlan ini tentu diharapkan insting kemanusiaannya terasah untuk selalu berbagi. Pada posisi yang demikian harapan baru akan terus terbarukan dan akan menjadi tradisi kemanusiaan yang tulus menuju kebangkitan sosial berkeadaban.

Penyaluran Bansos PKH Plus, Social Entry Point…!

Bansos PKH plus yang diluncurkan sejak tahun 2019 lalu hingga kini masih eksis dan menjadi program andalan pemerintah provinsi Jawa Timur dalam kendali Dinas Sosial, karena skema dan navigasi program PKH Plus ini sebagai turunan dari visi dan misi Gubernur Jawa Timur melalui Nawa Bhakti Satya. Kemampuan memotret peluang dengan menyiapkan skenario melalui bansos PKH Plus tentu butuh telaah yang sangat serius, terencana dan terintegrasi secara sustainable.

Bila Program Keluarga Harapan (PKH) reguler telah mengawali arah baru itu dengan memberikan bantuan bersyarat dan telah menyasar dengan menggenjot tiga komponen utama sekaligus yaitu 1. kesehatan (meliputi: ibu hamil, nifas dan balita) 2. pendidikan (anak usia sekolah, SD, SMP dan SMA atau yang sederajat) dan 3. kesejahteraan sosial ( lansia dan penyandang disabilitas berat), Maka pemerintah provinsi Jawa Timur akan terus mensupport para lansia dengan program bansos PKH Plus dalam mengimbangi kebutuhan dasar mereka.

Sejalan dengan perkembangan waktu, program ini dengan updating data yang lebih qualified dan telah disempurnakan dengan aplikasi e-PKH plus. Tentu, kedepan dituntut terus berbenah demi memastikan validasi dan akurasi data dengan tetap memperhatikan hal-hal yang bersifat normatif-administratif agar implementasi kebijakannya seperti validasi, verifikasi dan rekonsiliasi data dapat dipertanggungjawabkan.

Disinilah entry poin program ini yang dampaknya sangat dirasakan langsung oleh masyarakat khususnya para lansia. Ini pun sejalan dengan semangat ramadlan sebagai “Syahru Idlaa’afatil Hasanat.” bahwa pada bulan ini Allah S.W.T akan melipatgandakan segala kebijakan sosial dengan kelipatan kebaikan tak terhingga. Pada kinteks ini pula sesungguhnya keberadaan program bantuan sosial menjadi urgen.

Bila kegiatan penyaluran bansos ini terus terkoneksi secara berjenjang dan massif dikawal oleh semua SDM PKH Plus dari hulu hingga hilir maka potensi manipulasi data akan terpantau secara ketat, sekurang-kurangnya tujuan jangka pendek dari program ini dapat terjawab yaitu memperkecil beban lansia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Karena pada sisi yang berbeda, ketika kebutuhan dasar diatas tidak terpenuhi maka bukan tidak mungkin kegaduhan sosial akan menjadi konsekwensi.

Lagi-lagi himpitan ekonomi yang tidak menentu cukup dirasakan oleh semua kalangan, bahkan bukan tidak mungkin situasi ini justru menjadi sumber petaka dan krisis sosial yang susah dikendalikan. Maka penyaluran diharapkan menjadi salah satu solusi alternatif dalam menjawab kegilasahan semua. Semoga.!!!

Wallahul Muwaffiq ilaa Sabilir Rasyad.

Penulis adalah KORKAB PKH Sumenep dan aktifis kajian sosial di Institute For Strategic Studies Sumenep.


Editor : Anam

420

Baca Lainnya