Pendidikan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:48 WIB

3 jam yang lalu

logo

Rektor Unusa Tegaskan IPK Tinggi Saja Tak Cukup, Lulusan Harus Siap Hadapi Dunia Kerja

SURABAYA | klikku.id – Nilai akademik tinggi bukan satu-satunya modal untuk menembus dunia kerja. Lulusan perguruan tinggi juga dituntut memiliki kemampuan komunikasi, berpikir kritis, beradaptasi, bekerja dalam tim, hingga kesiapan menghadapi perubahan di lingkungan profesional.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Prof. Tri Yogi Yuwono, saat memberikan pembekalan kepada calon wisudawan periode September 2026 di Kampus B Unusa, Kamis (27/8/2026).

Pembekalan bertema “Financial Literacy & Job Readiness Skill” itu, merupakan kolaborasi Unusa dengan KADIN Jawa Timur, KADIN Institute, dan Plan International Indonesia.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kesiapan lulusan sebelum memasuki dunia profesional.

Tri Yogi mengatakan, perubahan dunia kerja berlangsung cepat seiring perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi. Kondisi itu membuat lulusan tidak bisa hanya mengandalkan capaian akademik.

“IPK yang tinggi hanya akan mengantarkan kalian sampai ke meja wawancara kerja. Namun, job readiness skill atau kesiapan kerja, yang menentukan apakah kalian akan diterima, bertahan, dan sukses mendaki puncak karier,” ujarnya.

Menurutnya, perusahaan membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori. Kemampuan berkomunikasi secara profesional, berpikir kritis, beradaptasi terhadap perubahan, serta bekerja dalam tim multidisiplin, juga menjadi bagian penting dari kompetensi kerja.

Karena itu, pembekalan menjelang wisuda dinilai penting untuk menjembatani kompetensi akademik dengan kebutuhan nyata dunia kerja. Para calon wisudawan diminta memanfaatkan kegiatan tersebut untuk memahami realitas dunia profesional yang dinamis.

Selain kesiapan kerja, Tri Yogi menilai literasi keuangan menjadi bekal penting bagi lulusan. Memiliki penghasilan, belum tentu membuat seseorang mampu mengelola keuangan dengan sehat.

Godaan konsumsi melalui ekosistem digital, termasuk kemudahan paylater, pinjaman daring, dan gaya hidup di media sosial, menurut dia harus disikapi secara bijak.

“Literasi keuangan bukan tentang seberapa besar uang yang berhasil kalian hasilkan, melainkan seberapa bijak dan bertanggung jawab kalian mengalokasikannya,” katanya.

Tri Yogi mendorong para calon wisudawan mulai membangun kebiasaan finansial sehat sejak menerima gaji pertama.

Di antaranya dengan mendahulukan kebutuhan, menabung, menyiapkan dana darurat, dan mengalokasikan sebagian pendapatan untuk hal produktif.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan agar kompetensi profesional tetap berjalan bersama karakter. Integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, dan sikap menghormati sesama dinilai tetap menjadi modal penting di dunia kerja.

“Industri akan menghormati kalian bukan hanya karena kalian cakap bekerja, tetapi karena kalian adalah manusia yang berintegritas dan beradab mulia,” tegasnya.

Ia berharap lulusan Unusa tidak hanya mengejar jabatan dan penghasilan. Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu memberikan manfaat bagi keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat.

Tri Yogi juga mengapresiasi kolaborasi dengan KADIN Jawa Timur, KADIN Institute, dan Plan International Indonesia.

Menurutnya, keterlibatan dunia usaha dan organisasi yang berpengalaman dalam pengembangan generasi muda membantu perguruan tinggi memahami kebutuhan tenaga kerja secara lebih nyata.

“Universitas tidak ingin melepas kalian ke masyarakat tanpa bekal yang matang,” ujarnya.

‘Dengan bekal kompetensi, kesiapan kerja, literasi keuangan, dan karakter yang kuat, kami berharap para calon wisudawan tidak hanya mampu mendapatkan pekerjaan. Tetapi juga mampu beradaptasi, berkembang, dan menciptakan nilai di tengah perubahan dunia yang semakin cepat,” pungkasnya. AM@n


 

41

Baca Lainnya