Lifestyle Opini

Sabtu, 7 November 2026 - 14:04 WIB

9 jam yang lalu

logo

Dok gambar foto ist Anam KLIKKU.ID.

Dok gambar foto ist Anam KLIKKU.ID.

Kesiapsiagaan Prabowo Hadapi Ancaman Perang Dunia III, Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Perbendaharaan Dunia?

KLIKKU.ID | OPINI —  Oleh: Abdullah Amas Pendiri GHPI (Gerakan Haluan Pemuda Islam) dan MADAS-APN (Majelis Madura Asli-Aliansi Pemuda Nasional), Ketua Majelis Syuro Pengurus Besar GHPI serta Pembina DPP MADAS-APN.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia dan kekhawatiran terhadap kemungkinan eskalasi konflik global, langkah Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pertahanan nasional serta mempercepat kemandirian pangan dan energi menjadi perhatian tersendiri.

Berbagai kebijakan strategis yang dijalankan pemerintah tersebut memunculkan pertanyaan menarik: apakah Indonesia sedang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan krisis global berskala besar, termasuk skenario Perang Dunia III?

Bagi sebagian kalangan, arah kebijakan Presiden Prabowo terlihat seperti sebuah strategi jangka panjang untuk membangun ketahanan nasional sebelum dunia menghadapi ketidakpastian yang lebih besar.

Di sektor pertahanan, pemerintah terus mendorong modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), termasuk pengadaan pesawat tempur modern dan penguatan armada laut. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kedaulatan negara sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah perubahan peta kekuatan geopolitik internasional.

Namun, kesiapan menghadapi ancaman global tentu tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan militer.

Ketahanan pangan dan energi menjadi dua sektor penting yang juga mendapat perhatian besar. Upaya mencapai swasembada sejumlah komoditas pangan, mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, serta mendorong pembangunan fasilitas pengolahan minyak dan bioetanol merupakan bagian dari strategi memperkuat kemandirian nasional.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu kebijakan yang menarik untuk dicermati. Dengan jaringan pelayanan yang tersebar di berbagai wilayah, infrastruktur tersebut berpotensi menjadi bagian dari sistem distribusi pangan nasional apabila suatu saat negara menghadapi kondisi darurat. Meski demikian, fungsi MBG sebagai dapur darurat dalam situasi krisis masih merupakan kemungkinan analitis, bukan fungsi resmi yang telah ditetapkan pemerintah.

Indonesia dan Gambaran Mesir pada Zaman Nabi Yusuf AS

Ada sebuah gambaran sejarah yang menarik untuk direnungkan, yakni kisah Nabi Yusuf AS ketika Mesir dipersiapkan menghadapi masa paceklik panjang.

Melalui penafsiran mimpi yang diberikan Allah SWT, Nabi Yusuf AS menyampaikan strategi penyimpanan hasil panen selama tujuh tahun masa subur untuk menghadapi tujuh tahun masa kekeringan.

Strategi tersebut menjadikan Mesir memiliki persediaan pangan ketika wilayah-wilayah di sekitarnya mengalami krisis.

Dari kisah tersebut muncul sebuah refleksi: mungkinkah Indonesia sedang diarahkan menuju posisi strategis serupa, yakni menjadi salah satu pusat ketahanan pangan dan perbendaharaan sumber daya ketika negara-negara lain menghadapi krisis global?

Tentu, analogi ini merupakan refleksi pemikiran, bukan kepastian bahwa Indonesia akan mengalami atau memainkan peran yang sama persis seperti Mesir pada zaman Nabi Yusuf AS.

Antara Geopolitik, Al-Mubasyirat dan Mimpi Muhammad Qasim. Menariknya, Abdullah Amas juga mengaitkan perkembangan kebijakan strategis Indonesia dengan fenomena Al-Mubasyirat atau mimpi-mimpi yang diyakini membawa kabar tertentu tentang peristiwa masa depan, sebagaimana narasi yang berkembang seputar Muhammad Qasim.

Dalam pandangan tersebut, sejumlah gambaran mengenai perubahan geopolitik dunia, hubungan antarnegara Islam, hingga kemungkinan terbentuknya kekuatan strategis di kawasan internasional menjadi bahan perbincangan.

Beberapa narasi yang disorot di antaranya mengenai hubungan Turki, Pakistan dan Arab Saudi, serta gambaran dinamika hubungan India dan Israel.

Sebagian kalangan yang mengikuti perkembangan kisah mimpi Muhammad Qasim menilai terdapat sejumlah peristiwa dunia yang dianggap memiliki kemiripan dengan gambaran dalam narasi tersebut.

Namun, hubungan antara mimpi-mimpi tersebut dan kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo tidak dapat dipastikan. Tidak terdapat keterangan resmi yang membuktikan bahwa Presiden Prabowo menjadikan mimpi Muhammad Qasim sebagai dasar dalam menentukan kebijakan pertahanan, pangan maupun energi nasional.

Karena itu, fenomena tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai perspektif spiritual yang berkembang di tengah masyarakat, bukan sebagai fakta politik atau landasan resmi kebijakan negara.

Kesiapan Nasional Menjadi Kunci Menghadapi Masa Depan. Terlepas dari berbagai penafsiran geopolitik maupun spiritual, satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah pentingnya kesiapsiagaan sebuah negara menghadapi perubahan dunia.

Kekuatan militer, kemandirian pangan, ketahanan energi, infrastruktur distribusi, serta stabilitas ekonomi merupakan elemen penting yang menentukan kemampuan suatu bangsa bertahan menghadapi krisis.

Indonesia memiliki potensi besar untuk memainkan peran strategis di kawasan maupun dunia. Kekayaan sumber daya alam, posisi geografis yang strategis, jumlah penduduk, serta potensi pertanian dan energi dapat menjadi modal penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Pertanyaannya sekarang bukan sekadar apakah Indonesia mampu menghadapi ancaman Perang Dunia III, melainkan sejauh mana seluruh kebijakan strategis pemerintah benar-benar mampu membangun kemandirian dan melindungi rakyat apabila krisis global terjadi.

Jika kesiapan tersebut dibangun secara konsisten, transparan, dan tepat sasaran, bukan tidak mungkin Indonesia semakin diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan penting dalam menjaga stabilitas dan ketahanan dunia.

Pada akhirnya, berbagai tanda zaman, perkembangan geopolitik, dan penafsiran spiritual hendaknya menjadi bahan renungan, tanpa meninggalkan pertimbangan rasional serta tanggung jawab dalam membaca fakta.

Sebagaimana ungkapan yang disampaikan penulis, Allahu a’lam bish-shawab.

#Anam KLIKKU.ID

42

Baca Lainnya