Kota Batu – megaproyek kereta gantung yang mencuat sejak masa Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, hingga kini masih sebatas wacana. Meski begitu, Wali Kota Batu saat ini, Dewanti Rumpoko masih ambisius agar proyek kereta gantung berdiri di Kota Batu.
Sebelumnya, Pemkot Batu telah menggelar pertemuan dengan PT INKA pada November 2020 lalu. Keterlibatan PT INKA dalam tataran studi kelayakan dan pembuatan jalur yang akan dilewati.
Di waktu itu juga, komunikasi yang dibangun antara Pemkot Batu dan PT INKA mengarah pada pembuatan nota kesepahaman. Dalam nota kesepahaman itu diikuti pula oleh BUMD dan perusahaan asal Austria, Doppelmayr Garaventa Group.
Selang beberapa bulan dari pertemuan itu, nampaknya pembangunan kereta gantung masih belum menemukan titik terang. Pada Selasa sore (19/1), Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko mengatakan, belum ada sistem kerjasama yang disepakati antara Pemkot Batu dan PT INKA.
Dewanti mengatakan, tersendatnya kerjasama itu lantaran ada ketidaksiapan di internal Pemkot Batu. Sehingga bisa menimbulkan kerancuan jika masih belum ada pihak yang bertanggungjawab menangani proyek ini.
Hal ini disebabkan OPD Kota Batu masih sibuk dengan agenda-agendanya sendiri. Juga dibutuhkan kecermatan dalam menjalankan agenda yang telah disusun berbagai OPD di Pemkot Batu.
“Kita butuhkan orang yang bisa mengawal penuh proyek ini, namun semua kepala dinas Kota Batu masih sibuk dengan agendanya masing-masing,” jelasnya.
Tersendatnya kerjasama itu, berujung pula pada kajian studi kelayakan. Hingga kini, kajian yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan pembangunan, masih belum dikerjakan. Dewanti mengatakan, studi kelayakan ini sudah banyak mengalami perubahan.
“Pada pemerintahan lalu sudah ada FS, namun itu kan sudah lama, sekarang sudah banyak perubahan, sehingga diperlukan FS yang baru,” bebernya.
FS ini merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pembangunan sebuah proyek. Dalam FS ini akan diketahui kelayakan pembangunan berdasarkan aspek perencanaan dan perancangan, aspek ekonomi (biaya dan sumber pendanaan), maupun aspek lingkungannya.
“FS kita targetkan selesai pada tahun 2021 sehingga pembangunan sudah biaa dimulai pada tahun 2022,” kata dia.
Sedangkan untuk pendanaan Dewanti mengatakan tidak menggunakan APBD. Namun dibiayai penuh oleh swasta. Biaya yang diperkirakan mencapai Rp 200 miliar.
Wakil Ketua DPRD Kota Batu, Heli Suyanto menaruh dukungan pada proyek prestisius ini. Hanya saja, legislatif belum bisa melakukan pengontrolan karena belum ada kejelasan dari eksekutif.
“Pemkot Batu belum koordinasi dengan kami. Kami dari pihak legislatif masih menunggu progres eksekutif ini sudah sampai mana,” jelasnya.
Sebagai fungsi kontrol, pihaknya memiliki kewenangan melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintah daerah. Namun, menurut Heli, DPRD Kota Batu masih belum mendapat informasi terkait perkembangan proyek ini. Sehingga pihaknya belum bisa sepenuhnya mengetahui terkait proyek kereta ganting ini.
“Yang jelas kami mensupport kegiatan pembangunan kereta gantung ini. Namun teknis pelaksanaan itu kan yang menjalankan eksekutif kami hanya bisa menunggu proses perkembangannya,” tandasnya.
Reporter : Hadi
Redaktur : Rizchi Hari Setiawan
