Ekonomi Bisnis Nasional

Kamis, 24 Juni 2021 - 04:49 WIB

5 tahun yang lalu

logo

OJK Berharap Percepatan Vaksinasi dan Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Dorong Pemulihan Ekonomi

Jakarta | klikku.net – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung penuh upaya percepatan vaksinasi di tengah tingginya laju penyebaran Covid-19 di Indonesia. Hal ini menjadi faktor penting tetap terjaganya stabilitas sektor jasa keuangan, dalam upaya mendorong pemulihan ekonomi.

Percepatan vaksinasi diharapkan menciptakan kekebalan komunal, yang mendukung mobilitas masyarakat dengan protokol kesehatan yang ketat. Sehingga perekonomian bisa kembali bergerak.

Untuk mendukung hal itu, OJK juga menggelar vaksinasi massal untuk sektor jasa keuangan dan masyarakat. Dengan target minimal 345 ribu orang, sampai dengan Juli 2021. Kegiatan ini sudah diawali di Jakarta dan beberapa kota pada pekan lalu, yang dihadiri Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Selain itu, OJK mengambil langkah cepat bersama dengan Polri, untuk menindak pinjaman online (pinjol) ilegal yang berpotensi melanggar hukum. Masyarakat banyak dirugikan, karena tingkat suku bunga yang sangat tinggi. Serta waktu peminjaman yang tidak transparan, penyebaran data pribadi, hingga penagihan yang disertai ancaman dan kekerasan.

OJK yang tergabung dalam Satgas Waspada Investasi, secara rutin juga melakukan cyber patrol. Serta menutup aplikasi atau website pinjol ilegal tersebut. Edukasi ke masyarakat terus dilakukan OJK bersama SWI, untuk tidak memanfaatkan pinjol ilegal. Dan hanya menggunakan fintech lending resmi yang terdaftar dan berizin OJK.

Menurut Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik Anto Prabowo, OJK mencatat data perekonomian domestik terkini masih menunjukkan pemulihan yang terus berlanjut.

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo

“Hal ini sejalan dengan perbaikan ekonomi global. Terutama di negara-negara ekonomi utama dunia, seiring dengan laju vaksinasi dan penanganan pandemi,” ujarnya dalam siaran tertulis, Rabu (23/6/2021).

Namun demikian, Anto berpendapat bahwa beberapa downside risks masih perlu diwaspadai. Diantaranya adalah potensi kenaikan laju kasus harian karena varian baru di tengah kelangkaan stok vaksin, tekanan inflasi dari sisi penawaran, dan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) yang lebih dini.

“Pasar keuangan domestik dilaporkan tetap terjaga stabil. IHSG hingga 18 Juni 2021 tercatat ke level 6.007 atau menguat 1,0% mtd, sejalan dengan perkembangan pasar saham negara berkembang lainnya. Sementara, pasar SBN terpantau menguat, dengan rerata yield SBN turun 12 bps di seluruh tenor. Investor nonresiden juga mencatatkan net buy sebesar Rp3,89 triliun di pasar saham dan Rp21,09 triliun di pasar SBN,” tambahnya.

Kredit perbankan pada Mei 2021 juga meningkat sebesar Rp32,23 triliun. Namun secara tahunan, masih terkontraksi sebesar -1,23% yoy, dengan nilai kontraksi yang semakin kecil. Perbaikan ini meneruskan tren positif selama 4 bulan ke belakang. Seiring berjalannya stimulus Pemerintah, OJK, dan otoritas terkait lainnya.

“Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) kembali mencatatkan pertumbuhan double digit sebesar 10,73% yoy. Dari sisi suku bunga, transmisi kebijakan penurunan suku bunga telah diteruskan pada penurunan suku bunga kredit yang cukup kompetitif, khususnya untuk kredit korporasi,” ungkapnya.

Rata-rata tertimbang suku bunga modal kerja korporasi tercatat menurun dari 8,66% menjadi 8,52%, dengan pengenaan premi risiko yang konsisten dengan rating masing-masing korporasi.

Bahkan sejumlah korporasi mendapatkan suku bunga kredit yang lebih rendah, dibandingkan yield surat utang korporasi yang diterbitkan untuk durasi yang proporsional.

“Sektor asuransi mencatatkan penghimpunan premi pada Mei 2021 sebesar Rp12,5 triliun. Dengan rincian Asuransi Jiwa sebesar Rp7,8 triliun, serta Asuransi Umum dan Reasuransi sebesar Rp4,7 triliun. Selanjutnya, fintech P2P lending pada periode yang sama mencatatkan pertumbuhan baki debet pembiayaan cukup signifikan sebesar 69,1% yoy menjadi Rp21,75 triliun. Sementara itu, piutang perusahaan pembiayaan masih berada di zona kontraksi. Dan mencatatkan pertumbuhan negatif 13,7% yoy di Mei 2021,” urainya.

Profil risiko lembaga jasa keuangan pada Mei 2021 masih relatif terjaga, dengan rasio NPL gross tercatat sebesar 3,35% (NPL net: 1,09%). Dan rasio NPF Perusahaan Pembiayaan Mei 2021 meningkat menjadi 4,0% (April 2021: 3,9%). Selain itu, Posisi Devisa Neto Mei 2021 sebesar 1,88%, atau jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20%.

Likuiditas industri perbankan sampai saat ini masih berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK per Mei 2021, terpantau masing-masing pada level 150,96% dan 32,71%, di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.

Permodalan lembaga jasa keuangan juga masih pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio industri perbankan tercatat sebesar 24,38%, jauh di atas threshold.

Sementara Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum, masing-masing tercatat sebesar 651% dan 336%. Ini jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%. Begitupun gearing ratio perusahaan pembiayaan, yang tercatat sebesar 2,01x, jauh di bawah batas maksimum 10x.

“OJK secara berkelanjutan melakukan asesmen terhadap sektor jasa keuangan dan perekonomian, guna menjaga momentum percepatan pemulihan ekonomi nasional. Serta terus memperkuat sinergi dengan para stakeholder dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan,” pungkasnya. (@Nto tse) 


Editor: Joe Meito

308

Baca Lainnya